Rabu, 22 November 2017

Eschercia coli










Jual Culture Eschercia coli
telp. 087731375234

Escherichia coli, adalah salah satu jenis bakteri yang sering ditemukan dalam sistem pencernaan hewan atau manusia. Bakteri E-Coli tertentu dapat menyebabkan penyakit sistem pencernaan yang serius, yang umum ditandai dengan diare dan kadang disertai mual. Dampak lain dari bakteri E coli adalah menghasilkan racun yang dapat merusak ginjal, serta melemahkan dinding usus kecil pada anak-anak. Alasan lain untuk menyebut berbahaya pada bakteri E coli adalah karena tidak ada obat yang efektif untuk ini. Berbahayakah Bakteri E coli bagi kesehatan?. Dampak bakteri E coli bagi kesehatan Diare yang dialami oleh orang yang terinfeksi bakteri E coli akan menyebabkan tubuh lemah, karena mengalami dehidrasi berat. Dehidrasi ini bisa membahayakan, jika penderita tak mendapatkan cairan tubuh pengganti, misalnya dari minum banyak air secara kontinyu.
E. coli O157 : H7 dalam jangka lama dapat merusak ginjal dan organ tubuh lainnya yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan racun dari tubuh. Pada anak-anak, E coli dapat menciptakan racun yang dapat melemahkan dinding usus kecil. Lapisan-lapisan beberapa pembuluh darah kecil pada ginjal juga bisa menjadi lemah. Ini merupakan komplikasi serius yang disebut dengan sindrom uremik hemolitik, dan dapat memungkinkan bagi penderita mengalami kegagalan ginjal atau komplikasi lain, seperti kelumpuhan, kebutaan, dan kejang . Bakteri E coli bisa berbahaya dan menimbulkan dampak yang paling parah pada anak-anak atau orang tua yang sistem kekebalannya lemah. Hal ini mungkin karena pertahanan tubuh alami pada anak-anak masih berkembang, dan orang dewasa yang memiliki kekebalan lemah, sehingga mereka tidak memiliki flora usus yang sehat dan antibodi yang diperlukan untuk menangkal infeksi. Orang dewasa yang sehat biasanya bisa bertahan dari akibat terburuk dari infeksi bakteri ini, karena unsur-unsur pada saluran pencernaan mereka masih berfungsi secara normal, serta pertahanan alami tubuh yang kuat akhirnya bisa menangkal bakteri ini. Gejala Gejala mulai terjadi ketika bakteri E. coli sudah memasuki usus . Waktu terinfeksi dan perkembangan gejala biasanya dapat berlangsung antara 24 – 72 jam .
 Diare parah yang tiba-tiba, dan sering disertai darah pada tinja adalah gejala yang paling umum. Gejala lain yang mungkin termasuk : Demam Gas dalam perut Kehilangan nafsu makan Kram perut Muntah, meskipun jarang Gejala infeksi E. coli yang jarang terjadi, namun bisa parah meliputi: Mudah mengalami memar Kulit pucat Urin Merah atau berdarah Jumlah urin yang sedikit Penyebab E. coli sebenarnya adalah jenis bakteri yang biasanya hidup didalam usus manusia dan hewan tanpa menyebabkan masalah. Penting untuk disadari bahwa tidak semua bakteri E. coli berbahaya bagi manusia. Sebagian bermanfaat untuk membantu pencernaan, yang merupakan bagian dari flora usus agar makanan tertentu mudah dicerna seperti protein atau gula. Namun beberapa jenis bakteri E. coli tertentu dapat mengkotaminasi makanan. Satu strain ( E. coli O157 : H7 ) dapat menyebabkan kasus keracunan makanan yang parah.
Bakteri dapat masuk ke dalam makanan Anda dengan cara yang berbeda : Daging atau unggas yang kontak dengan bakteri dari usus hewan saat sedang diolah. Air yak tak higienis mungkin mengandung kotoran hewan atau manusia. Penanganan makanan yang tidak aman pada toko-toko kelontong atau rumah makan. Keracunan makanan akibat E coli seringkali terjadi dari makanan atau minuman : Makanan yang disiapkan oleh seseorang yang tidak mencuci tangan dengan benar. Makanan yang disiapkan dengan menggunakan peralatan memasak yang kotor. Produk-produk susu atau makanan yang mengandung mayones (seperti coleslaw atau salad kentang ) yang telah berada diluar lemari es terlalu lama. Makanan beku yang tidak disimpan pada suhu yang tepat, atau tidak dipanaskan dengan benar. Ikan atau tiram mentah Buah mentah atau sayuran yang belum dicuci bersih. Sayuran mentah atau jus buah dan produk susu. Daging matang atau telur. Air dari sumur atau sungai, atau air kran yang belum diolah. Meskipun tidak umum, bakteri E. coli juga dapat menyebar dari satu orang ke orang lain . Hal ini bisa saja terjadi ketika seseorang tidak mencuci tangan nya setelah buang air besar, dan kemudian menyentuh benda atau tangan orang lain.
Pengobatan dan perawatan Dokter akan melakukan pemeriksaan secara fisik, termasuk memeriksa tinja bisa dilakukan untuk memastikan E.coli . Biasanya infeksi dari jenis bakteri E coli yang paling umum bisa sembuh sendiri dalam beberapa hari. Dan tujuan pengobatan hanyalah untuk membuat penderita merasa lebih baik dan terhindar dari dehidrasi. Mendapatkan cukup cairan, serta mencari tahu apa yang harus dimakan akan membantu menciptakan kenyamanan. yang mungkin perlu dilakukan oleh penderita adalah; Merawat diare, Mencegah mual dan muntah dan Istirahat cukup. Jika penderita mengalami diare atau muntah-muntah yang parah, serta tidak bisa minum atau dapat menyimpan cairan yang cukup dalam tubuh, mungkin perlu diberikan cairan melalui vena/infus . Sehingga penderita harus dirawat dokter diruang gawat darurat . Penderita mungkin perlu berhenti minum pil diuretik saat mengalami diare. Jangan pernah berhenti atau mencoba berganti obat tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Penderita mungkin dapat membeli obat diare di apotek, yang bertujuan untuk membantu menghentikan atau memperlambat diare.
Namun jika gejala diare parah dan demam, maka sebaiknya jangan menggunakan obat-obatan tanpa diketahui dokter. Terutama jangan memberikan obat-obatan sendiri untuk diare pada anak-anak. Bakteri E coli tidak merespon dengan baik kelebihan penggunaan obat tradisional untuk meredakan diare. Antibiotik pada dasarnya akan membunuh bakteri apa saja, termasuk strain bakteri baik pada usus yang justru bertugas untuk melawan E. coli berbahaya.


Sabtu, 18 November 2017

Aspergillus sojae, Aspergillus oryzae in Food Technology



 Jual Culture Aspergillus sojae, Dan Aspergilllus oryzae
Telp. 087731375234

Aspergillus oryzae and Aspergillus sojae strains used for shoyu production have focused on comparing these two fungal species and improving their enzyme-producing abilities. A study of the enzymatic differences between 11 strains of Aoryzae and 20 strains of Asojae showed that the activities of neutral, acid, and alkaline proteases, xylanase, pectin lyase, phosphatase, and aminopeptidase were not significantly different. However, acid carboxy peptidase activity and α-amylase activity were higher fromAoryzae when compared with Asojae strains, while endopolygalacturonidase activity was much higher from Asojae than from Aoryzae (Terada et al., 1980).
The ratios between α-amylase activity and endopolygalacturonidase activity of 0.5–2 for Asojae and 20–2000 for Aoryzae were suggested as a differentiation criterion for the species (Terada et al., 1980).Hayashi et al. (1981) compared the performance of these two fungi in shoyu production. They found that the activities of protease, acetic carboxypeptidase, and α-amylase were lower and those of endopolyglueuronidase and glutaminase were higher inkoji made with Asojae. In the moromi stage, the proportions of NH3 nitrogen (N), glutamic acid N, and total Ν were higher, and viscosity and heat residue were lower with Asojae.
The resulting concentrations of citric and succinic acids in the shoyu were significantly higher (p < 0.001) with Asojae than with Aoryzae.Ishihara et al. (1996) compared the volatile components in commercial koikuchi shoyus from different factories using eitherAoryzae or Asojae and found that the concentrations of 1- and 2-propanol, furfuryl and benzyl alcohols, ethyl-benzoate, and lactate, acetate, pyrazines, carbonyl compounds such as ethanal, maltol, and phenyl acetaldehyde, phenol, and others, were higher in the shoyu from factories using the latter fungus, but concentrations of 2-methyl- and 3-methyl − 1-butanol, 2-phenyl ethanol, 2-methyl- and 3-methyl-butanoic acid, 3-methylthio − 1-propanol, HEMF, 4-ethyl guaiacol, 4-ethyl phenol, and others were greater in shoyu from factories using the former fungus. These results have prompted factory managements to use Asojae for koji production.
Using an unusual system, Yasui et al. (1982) tested a range of kojifungal strains for glutaminase production and found that, when a strain showing 16% higher glutaminase activity than its parent strain was compared with its parent in the production of shoyu, the final glutamic acid concentration was 10% higher.
In the early 1950s, Asojae KS was irradiated with X-rays by Iguchi to produce strain X-816 of Asojae (Sekine et al., 1970).Sekine et al. (1970) obtained seven strains with superior alkaline phosphatase activity (130–190%) and highly active protease, peptidase, cellulase, and amylase activities that were better at decomposing soybean protein. Yokoyama and Kadowaki (1983)UV-irradiated Asojae strain Η and obtained mutant strains with total protease activities 2.5 times that in wheat bran and soy sauce kojis. The mutant strains were diploidized and combined with natural mutants from Μ strains, and strains TH and D-15 were produced that possessed higher total protease activities than the Μ strains, and grew well. However, UV irradiation may stimulate the production of toxic elements in otherwise safe fungi. Kalayanamitr et al. (1987) UV-irradiated Aflavus var.columnaris Raper and Fennel (ATCC44310) to obtain mutant strains with high protease and amylase activities, and light-colored conidia. Some selected mutant strains were found to be acutely toxic to weanling rats, even though they were negative for aflatoxin production. The investigators suggested that the toxic compound could be one of four substances: maltorhyzine, aspergillic acid, kojic acid, or cycoopiazonic acid.
Furuya et al. (1983) fused, with an efficiency of 1%, protoplasts derived from two strains of Aoryzae, one with a high growth rate and the other producing high levels of protease. Two strains derived from successful fusions showed high stability, fast growth, and abundant sporulation and produced 2.3 times more protease than the parent fast-growth strain.
The growth and development of microorganisms on defatted soybean and ground wheat koji prepared with Asojae were studied by electron microscopy by Kitahara et al. (1980). Growth of the mold on the surface of the soybean was rapid up to 24 h, at which point formation of sporing bodies began, and spores were released within 40 h. However, very little fungal growth was seen on the wheat surface, but yeasts were seen growing on the wheat. Growth of Micrococcus species became noticeable after 16 h, as did multiplication of lactobacilli. These observations on the growth of the koji mold are at odds with the observation that 10–20% of the dry matter in koji is lost in the koji stage (Takeuchiet al., 1968) and the observations below on the significant consumption of carbohydrate during the koji stage. I suggest that significant penetration of the wheat endosperm should have been seen.
During koji production, carbohydrate is consumed by the fungus, thus leaving less carbohydrate available to provide flavor compounds for the final shoyu produced (Furuya et al., 1985). This carbohydrate consumption is positively correlated with α-amylase activity in koji culture. To overcome the depletion of carbohydrate before the moromi stage, Furuya et al. (1985)derived mutants that utilized 10–50% less carbohydrate during preparation of koji than the parent strain, with about 1/3, 1/20, and 1/150 of the α-amylase activity of the parent strain of A.oryzae. Significantly increased amounts of carbohydrate-derived compounds were found in the resulting shoyu made with these mutants.
Enhanced glutaminase activity in koji is desirable to increase glutamic acid production in soy sauce, and reduced conidial production in the koji reduces contamination of the air with floating conidia (Ueki et al., 1994a). A mixed tane koji of two kojifungi, Aoryzae strains K2 and HG, increased glutaminase activity of the mixture to 11.3 units · g− 1 dry koji, which was higher than the 4.7 or 4.4 units · g− 1 dry koji produced by the K2 strain or HG strain, respectively, and conidia production was reduced tenfold (Ueki et al., 1994a). The mixed tane koji was used in the manufacture of soy sauce, and the resulting mixed koji made with 3.6 tons of defatted soybean and of wheat grain showedhigh glutaminase activity (5.5 units · g− 1 dry weight koji) when compared to strain K2 alone (1.8 units · g− 1 dry weight koji). In addition, the number of conidia in the mixed culture was 2.5 × 107 g− 1 dry koji, which was lower than 1.3 × 108 g− 1dry kojiproduced by strain K2 alone. The glutamic acid content of the raw soy sauce was 1.25 times higher than the glutamic acid level found in normal soy sauce (Ueki et al., 1994b).
Kim and Cho (1975) investigated soy sauce production in Korea using a soy–wheat koji prepared with Asojae, using natto, a soy bean product prepared with Bacillus natto, and using a mixture of the two in varying proportions. The natto–brine mixture had protease activity twice as high as the koji alone, and this was reflected in the protease activities found in mixtures of the nattoand koji. On comparing the organoleptic qualities of soy sauces fermented for 3 months, the koji:natto at a ratio of 6:4 had the best flavor, followed by koji alone.


 http://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/aspergillus-sojae

Fermentasi Pakan Ternak Dengan Aspergillus Niger





Aspergilus niger adalah fungi dari filum ascomycetes yang berfilamen, mempunyai hifa, spora berwarna hitam. Aspergilus niger biasanya diisolasi dari tanah, sisa tumbuhan, atau udara di dalam ruangan. Koloninya berwarna putih pada Supaya Dekstrosa Kentang (PDA) 25 °C dan berubah berubah hitam saat/ketika konidia dibentuk. Kepala konidia dari Aspergillus niger berwarna hitam, bulat, cenderung memisah berubah bagian-bagian yang lebih longgar seiring dengan bertambahnya umur (wkipedia). Jamur Aspergillus niger tak sedikit digunalan sebagai model fermetasi dalam industri makanan, farmasi, produksi pakan ternak dan lain sebagainya.
Manfaat penggunaan Aspergillus niger dalam fermentasi produksi pakan ternak adalah menambah penyerapan fosfor (P), menambah kecernaan protein, menambah penyerapan unsur Ca, Fe dan Zn. Tidakhanya itu Aspergillus niger juga bisa menambah kandungan protein dan menurunkan kadar serat kasar yang terdapat pada limbah agroindustri bagai onggok, kleci, dedak dan sebagainya.

Cara Fermentasi Pakan Ternak Menggunakan_dengan Aspergillus niger :
a). Alat dan bahan :
1)      Ember berkapasitas besar
2)      Jagung 40 kg
3)      Menir kedelai 30 kg
4)      Onggok 15 kg
5)      Kleci 15 kg
6)      Urea 1 kg
7)      100 gram Aspergillus niger
8)      Air hangat 8 liter
b). Petunjuk membikin :
1)      Campurkan semua bahan dan aduk sampai-pada tercampur rata
2)      Apabila telah tercampur rata, masukkan bahan-bahan tersebut kedalam ember besar
3)      Masukkan 8 liter air hangat yang telah disediakan, aduk hinggarata dan biarkan beberapa menit
4)      Sehabis dingin masukkan 100 gram Aspergillus niger dan 1 kg urea
5)      Selanjutnya aduk hinggatercampur rata dan ember ditutup rapat
6)      Simpan ditempat teduh dalamwaktu 3 hari
7)      Fermentasi berakhir dan pakan siap untuk diberikan pada ternak sapi

Dengan fermentasi menggunakan_dengan Aspergillus niger ini, kandungan protein meningkat dari 13,88% berubah 18,08%. Kandungan serat kasar menurun dari 12,35% berubah 9,96%.


Senin, 16 Oktober 2017

Cara Membuat Frozen Yogurt








Frozen yogurt merupakan jenis yogurt dibekukan dalam suhu rendah sehingga bentuknya mirip dengan ice creame. Untuk membuat  frozen yogurt dibutuhkan mesin es krim atau alat sederhana berupa blender. 

Cara membuat frozen yogurt adalah sebagai berikut:
1)      Campurkan 1 gelas air, 2 gelas plain yogurt (yogurt tawar), dan 1 ons  strowberi beku ke dalam blender. Nyalakan blender pada kecepatan tinggi hingga halus. Jenis buah dapat dipilih sesuai yang kita kehendaki atau dapat digantikan dengan menggunakan essence atau ditambahkan pemanis (gula pasir).
2)      Tambahkan 2 cangkir plain yogurt, 1 cangkir stroberi beku, dan 1 cangkir sirup strowberi ke dalam blender. Nyalakan kembali blender pada kecepatan tinggi sampai semua bahan halus dan tercampur rata.
3)      Jika dikhendaki, tambahkan air untuk mengencerkan campuran. Aduk perlahan, setelah tercampur secara bertahap tambahkan beberapa potong es batu sampai blender menjadi penuh atau sudah mencapai kekentalan yang diinginkan.
4)      Sajikan frozen yogurt langsung dari blender, atau Anda bisa memasukkannya ke dalam wadah kedap udara dan simpan di dalam freezer terlebih dahulu.


The functionality of the Aspergillus oryzae






Jual Culture Aspergillus oryzae, Aspergillus sojae
Telp. 0877431375234



Aspergillus oryzae, along with most other members of the Aspergillus family, has a hyphae that is hyaline and septate, and conidiophore, which ends at a round-shaped vesicle. From the vesicle extend long filaments called a conodial chain, which appear as long fluffy strands on the surface of the substrate. The spore-bearing cells, or asci, are produced within the ascocarp, or the fruiting body. The primary enzyme secreted by the filamentous fungi is called amylase, which lends a sweet taste to the food it is fermented into. This enzyme is most efficient at a temperature of 35-40 degrees Celsius. Most other enzymes found in A. oryzae grow at a temperature of around 30-35 degrees Celsius.
Members of the Aspergillus genus are distinct from other microbes due to the fact that they utilize both a primary and secondary metabolic system. The functionality of the Aspergillus metabolism depends on its carboxylic acids, which break down into fatty acid chains that are composed of a unique set of fatty acid synthase complexes. These chains aid in the development of the Aspergillus cell membrane and the enzyme storage vesicles. The primary metabolism of A. oryzae receives its energy through contact with energy sources (e.g. grains or starches). Once it makes contact with an energy source, it secretes enzymes that degrade the proteins and peptide bonds within the starch and convert them into amino acids and sugars for consumption. The secondary metabolism utilizes acidic compounds to suppress metabolic pathways, which allows A. oryzae to produce secondary metabolites. These metabolites grant A. oryzae the ability to modify themselves according to their current environment--they are able to increase or decrease their fitness to allow optimum metabolic efficiency. This ensures that fungi within the Aspergillus genus are able to adapt to a wide range of environments. Most of what is currently known about secondary metabolites is comprised of the polyketide molecules generated from the acidic compounds within the secondary metabolism.
It was previously thought that A. oryzae could only reproduce asexually through mitosis by dispersing spores using conidiophores. Yet, it was recently found to contain an alpha mating-type gene within its genome which implicates a heterosexual mating process. Despite this, asexual reproduction is favored in all conditions, and rarely will sexual reproduction be utilized. A. oryzae grows under warm temperatures and moist environments, as most fungi and mold do. As it matures, the filaments grow longer into a white, fluffy texture.
Aspergillus oryzae tend to prefer environments that are rich in oxygen, as they are molds that inhabit the surface of various substrates that provide beneficial nutrients to them. They also prefer environments between 30 and 40 degrees Celsius that have adequate moisture for the spores to cultivate and propagate. A. oryzae are a domesticated species and are most commonly found in northern regions, specifically in East Asia, but can be found anywhere. The Aspergillus genus is extremely common, although A.oryzae specifically is more rare due to its domestication for use in fermentation in the food industry.
A. oryzae is considered to be a pathogenic microbe because of the fungi's contamination of carbon-rich and starchy foods such as beans, rice, or bread as well as various trees and plants. Also, the Aspergillus genus is characterized by its mycotoxins, primarily kojic acid, produced by the secondary metabolism of A. oryzae and close relatives. A. oryzae can also produce toxins such as maltoryzine, cyclopiazonic acid, and b-nitropropionic acid due to its close relationship to A. flavus. Despite this, A. oryzae has been determined to be relatively safe for use in food processing because of its domestication and evolution from wild-type relatives A. flavus and A.niger, which led to an inactivation the proteins that code for its toxin pathway. The production of kojic acid in members of the Aspergillus genus was found to be strain-specific and and environmentally-based. For A. oryzae specifically, the release of the mycotoxin kojic acid could be triggered by an environment of extended fermentation, but as long as adequate precautions are taken in industrial processes, the fungi is safe.[9] Other than this, the greatest risk from A. oryzae is airborne spores that could be inhaled in large amounts by industrial workers.

As A. oryzae is a fungus native to humid East Asian regions, it is a microorganism that is primarily used in Japanese and Chinese food production. A. oryzae is utilized in solid-substrate cultivation (or SSF) which is a fermentation process used to make various different kinds of foods, from soy sauce to sake and vinegar due to its ability to secrete a multitude of useful enzymes. A. oryzae is said to have the greatest potential in efficient production of enzymes of those within the Aspergillus genus, and is therefore taken advantage of in the fields of genetic engineering and biotechnology to create industrial enzymes for even more profitable manufacturing. In solid-substrate cultivation, A. oryzae is sprinkled over rice, barley, or soybeans and fermented at a specific temperature ideal for fungus growth. The A. oryzae is sprinkled on the grain at a temperature under 45 degrees Celsius, and the fungus (called tane koji or "seed koji" by the Japanese) grows on the steamed rice, which then raises in temperature and moisture level to allow the fungus to propagate. The enzymes it secretes break down the starches and proteins within the grains and convert it into amino acids and sugars. A grain with properly-grown fungi mycelium is characterized by fluffy, white filaments covering the outside. The production of koji, the product of the filamentous fungus A. oryzae and the chosen grain, and the techniques to cultivate it are kept a secret by each koji company. 

sumber : https://microbewiki.kenyon.edu

Teknik Produksi Kecap






Jual Ragi Kecap (Aspergillus sojae, Aspergillus oryzae)
Telp. 087731375234



Proses pembuatan kecap relatif sederhana dan tidak membutuhkan teknologi. Secara umum proses pembuatan kecap meliputi; sortasi kedelai, perendaman, perebusan, pendinginan, peragian, fermentasi I, penjemuran, fermentasi II (perendaman dalam larutan garam 20% minimal 1 bulan), penyaringan, pemberian gula dan bumbu pada filtrat, perebusan, pengemasan. Proses fermentasi pada industri kecap menggunakan jamur Aspergillus sojae atau Aspergillus oryzae. Mula-mula kedelai difermentasi dengan kapang Aspergillus sp. dan Rhizopus sp. menjadi semacam tempe kedelai. Kemudian "tempe" ini dikeringkan dan direndam di dalam larutan garam. Mikroba yang tumbuh pada rendaman kedelai pada umumnya dari jenis khamir dan bakteri tahan garam, seperti khamir Zygosaccharomyces dan bakteri susu Lactobacillus. Mikroba ini merombak protein menjadi asam-asam amino dan komponen rasa dan aroma, serta menghasilkan asam. Kedelai akan terfermentasi pada larutan dengan kadar garam 15 - 20%.
Kedelai yang umumnya digunakan untuk pembuatan kecap adalah kedelai hitam. Beberapa varietas kedelai unggul cocok sebagai bahan baku pembuatan kecap antara lain; Merapi dan Cikuray dengan kadar protein tinggi (42%), Mallika dengan kadar protein (37%), Detam-1 dan Detam-2 memiliki kadar protein lebih tinggi (43 – 44,6%) dan bobot biji lebih besar (14 g/100 biji). Detam-1 dan Detam-2 memiliki potensi hasil 3 – 3,5 ton/ha lebih unggul dibanding varietas Merapi, Cikuray dan Mallika serta beberapa varietas lain berbiji kuning. Tahapan proses pembuatan kecap adalah sebagai berikut:

1. Sortasi Kedelai
Kedelai yang akan diproses menjadi kecap disortasi yaitu memisahkan kedelai dari kotoran-kotoran seperti tanah, batu kecil, daun, batang, kulit kedelai, biji rusak, dan lain-lain.

2. Perendaman
Biji kedelai yang telah disortasi, direndam dalam air bersih selama kurang lebih 7 jam, kemudian ditiriskan.

3. Perebusan dan Pendinginan
Biji kedelai yang telah direndam direbus menggunakan tungku kayu bakar atau dengan steam selama 1-2 jam sampai lunak. Kemudian ditiriskan hingga dingin di atas tampah selama 5-6 jam.

4. Peragian / Inokulasi
Biji kedelai yang telah direbus dan dingin, kemudian ditaburi ragi kecap, aduk sampai rata, kemudian disimpan selama 3-4 hari hingga ditumbuhi jamur.

5. Perendaman dalam larutan garam
Biji kedelai yang telah ditumbuhi jamur, kemudian direndam dalam larutan garam dengan konsentrasi 20% (200 gram garam dalam 1 liter air). Perendaman dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Selama proses perendaman, setiap pagi dijemur dengan panas matahari dan diaduk-aduk, kemudian sore hari ditutup lagi dan disimpan.

6. Penyaringan
Setelah proses perendaman dalam larutan garam selama 1 bulan, biji kedelai mengalami fermentasi. Langkah selanjutnya adalah melakukan penyaringan dengan menggunakan saringan lembut atau kain halus. Sehingga didapatkan filtrat kedelai dan ampasnya dipisahkan.

7. Perebusan II
Tambahkan bumbu halus ke dalam filtrat, tiap 1 liter filtrat ditambahkan 2 Kg gula merah yang telah dilarutkan dengan air 0,5 liter. Rebus dengan menggunakan tungku sambil diaduk-aduk hingga mendidih.

8. Pengemasan dan pasteurisasi
Saring kecap dengan kain halus dan tuang ke dalam botol yang telah disterilkan, kemudian ditutup menggunakan alat penutup botol. Lakukan sterilisasi dengan meletakkan botol ke dalam panci berisi air mendidih kurang lebih selama 30 menit.

Teknik Inokulasi Tanaman Gaharu







Jual Inokulan Gaharu Fusarium solani
Telp. 087731375234

Inokulasi adalah tahapan terpenting dari budidaya gaharu, karena pada tahapan ini proses terbentuk nya gubal gaharu. Inokulasi adalah proses penyuntikan bibit cendawan / fungi pada batang gaharu. Jenis fungi yang telah umum digunakan adalah Fusirium solani dan Fusarium moniliforme. Cara melakukan inokulasi adalah dengan mengebor batang gaharu kemudian menyuntikan bibit cendawan ke dalam lubang bor tersebut. Untuk menyuntikan cendawan kita bisa memanggil ahli penyuntikan dengan bayaran tergantung kesepakatan. Inokulasi dapat dilakukan ketika gaharu telah berumur 5-6 tahun.

Tahapan-tahapan dalam penginokulasian gaharu, bahan dan alat yang dibutuhkan adalah:
1)      Bor kayu dengan ukuran minimal 10 mm, sesuai dengan diameter batang semakin besar diameternya maka ukuran bor semakin besar, ukuran bor yang biasa digunakan berukuran 13 mm.
2)      Genset kapasitas 450 watt atau 900 watt dan alat bor listrik.
3)      Spidol permanent sebagai penanda titik bor.
4)      Alat ukur meteran untuk mengukur keliling batang dan jarak titik bor satu dengan lainnya.
5)      Pinset dan suntikan sesuai ukuran bor.
6)      Alkohol 70 % untuk sterilkan alat dan lubang hasil bor kayu.
7)      Masker, gunting serta kapas.
8)      Lilin lunak, plester atau lakban, untuk menutup lubang bor.
9)      Sarung tangan karet dan Inokulan Gaharu.

Proses pengerjaannya dengan mengikuti prosedur dibawah ini:
1)      Ukur titik pengeboran awal 1 meter dari permukaan tanah. Beri tanda dengan spidol. Kemudian buat lagi titik pengeboran diatasnya dengan mengeser kearah horizontal sejauh 15 cm dan vertical 15 cm. dengan cara yang sama buatlah titik berikutnya hingga setelah dihubungkan membentuk garis spiral.
2)      Ukur lingkaran batang untuk mendapatkan diameter batang. Misalkan lingkaran batang 60 cm, hitung diameternya dengan rumus : Keliling Lingkaran = diameter x 3,14. contoh 60 cm = diameter x 3,14 berarti diameter batang = 60 cm : 3,14 = 19,11 cm.
3)      Buat lubang sedalam 1/3 diameter batang pada titik pengeboran yang sudah ditanda dengan spidol. Contoh : Kedalaman lubang bor = diameter batang x 1/3 = 19,11 x 1/3 = 6,4 cm.
4)      Bersihkan lubang bor dengan kapas yang sudah dibilas dengan alcohol.
5)      Masukkan inokulan dengan pinset kedalam suntikan yang ujungnya sudah dipotong, kemudian masukkan inokulan kedalam lubang sampai penuh.
6)      Tutup lubang yang telah terisi penuh inokulan dengan lilin agar tak ada kontaminan dari mikroba yang lain. Untuk mencegah air merembes permukaan lilin ditutup kembali dengan plester atau lakban.
7)      Cek keberhasilan penyuntikan setelah 3 bulan, caranya buka plester dan lilin kemudian kupas sedikit kulit batang, jika batang tampak berwarna coklat kehitam hitaman berarti penyuntikan berhasil. Tutup kembali lubang dengan lilin dan plester.

Setelah kurang lebih 7 bulan dari penyuntikan ambil sample dengan mengebor lubang baru 5 cm diatas lubang sebelumnya, jika serbuk hasil bor sudah hitam atau wangi atau sesuai dengan ciri-ciri yang diinginkan maka pohon sudah dapat dipanen jika belum sesuai tutup kembali lubang dengan lilin. Tanda hasil mulai maksimal jika daun gaharu sudah mengering 50 % hal ini biasanya terjadi pada 1,5 tahun sampai 2 tahun setelah penyuntikan tergantung dari besarnya diameter batang, semakin besar diameter batang maka proses mengeringnya daun semakin lama.
Pada pelaksanaan penginokulasian terhadap pohon gaharu ini, harus diperhatikan umur dan diameter batangnya. Batas minimal suatu pohon dapat di inokulasi ditandai dengan pohon yang mulai berbunga. Biasanya umur tanaman tersebut sekitar 4 – 5 tahun atau diameter batang sudah mencapai 8 – 10 cm.
Berikut diulas teknik inokulasi menggunakan inokulan padat dan cair.
a. Inokulasi Dengan Inokulan Padat
1)      Buat lubang pada batang kayu gaharu dengan menggunakan bor.
2)      Diameter lubang bor sekitar 0,8 – 13 mm. Kedalaman optimal pemboran ini perlu disesuaikan dengan ukuran diameter batang, biasanya sekitar 5 cm. Setiap batang dibuatkan banyak lubang dengan jarak antar lubang bor sekitar 20 cm.
3)      Bersihkan tangan pelaku inokulasi dengan air hingga bersih dan dibilas dengan alcohol sebelum pelaksanaan inokulasi.
4)      Masukkan inokulasi padat ke setiap lubang. Jumlah inokulan disesuaikan dengan kedalaman lubang. Sebagai patokan, pemasukan ini dilakukan hingga lubang terisi penuh dengan inokulan. Agar pemasukan menjadi mudah, gunakan potongan kayu atau bamboo yang ukurannya sesuai dengan ukuran diameter lubang.
5)      Tutup setiap lubang yang sudah diberi inokulan untuk mnghindari masuknya air ke dalam lubang. Penutupan lubang ini dilakukan dengan pasak kayu gaharu. Penutupan pun dapat dilakukan dengan “lilin malam”
b. Inokulasi Dengan Inokulan Cair
1)      Lakukan pengeboran pada pangkal batang pohon dengan posisi miring kebawah. Kedalaman pemboran disesuaikan dengan diameter batang pohon, biasanya 1/3 diameter batang. Sementara mata bor yang digunakan berukuran sama dengan selang infus sekitar 0,5 cm. Selang infuse tersebut biasanya sudah disediakan produsen inokulan pada saat pembelian inokulan. Namun, bila belum tersedia, selang infuse dapat disediakan sendiri oleh petani.
2)      Masukkan selang infus yang ada pada botol inokulan cair kedalam lubang.
3)      Atur besarnya aliran inokulan cair tersebut. Hentikan aliran infuse bila cairan inokulan sudah keluar dari lubang.
4)      Tutup bagian tepi disekitar selang infuse dengan menggunakan “lilin malam”.
5)      Ulangi pengaturan aliran masuknya cairan infuse kedalam lubang setiap 1–2 hari, tergantung keadaan cairan dalam lubang. Pengaturan aliran dilakukan bila lubang sudah tidak terdapat lagi cairan inokulasi.
6)      Laksanakan penginokulasian ini hingga inokulan cair didalam botol infuse tersebut habis. Penginokulasian diulang kembali dengan botol inokulasi baru, bila belum ada tanda tanda kematian fisik dan fisiologis.

Posting Lama ►

BIO-MOCAF

BIO-MOCAF
Formula Pembuatan Tepung Mocaf

Acetobacter xylinum

Acetobacter xylinum
Bibit Nata De Coco
 

Copyright © 2012. AGROTEKNO LAB - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz