Jumat, 21 Juni 2019

Formula Bio-Mocaf Untuk Fermentasi Pembuatan Tepung Mocaf









Jual Formula Biomocaf
087731375234


Singkong adalah salah satu produk pertanian unggulan Indonesia. Singkong dapat  diolah menjadi aneka produk yang sangat bernilai ekonomis diantaranya diolah sebagai pakan ternak, tepung tapioka, gula cair, bioethanol, nata de cassava, dan berbagai aneka makanan camilan seperti keripik balado, thiwul, selondok, dan lain-lain. Saat ini, temuan terbaru produk olahan singkong adalah tepung mocaf yang memiliki karakteristik sebagai penggganti terigu.
Mocaf (Modified Cassava Flour) adalah produk olahan singkong menjadi tepung yang difermentasi sehingga memiliki tekstur yang baik, warna putih, dan aroma tidak berbau singkong.Tepung mocaf kini kian popular, karena tepung mocaf memiliki karakteristik yang bagus mampu menyubstitusi terigu.Saat ini kebutuhan tepung terigu nasional sangat tinggi, sedangkan pasokan masih harus didatangkan dari luar negeri, karena Indonesia tidak mampu memproduksi gandum yang merupakan bahan dasar terigu.
Beberapa kendala dalam industri tepung mocaf antara lain adalah; harga singkong yang seringkali fluktuatif dipengaruhi masa panen yang tidak kontinue.Beberapa daerah di Indonesia memang bisa produksi singkong secara kontinue sehingga harganya bisa stabil dan terjangkau untuk industri.Saat ini harga singkong agak naik seiring berkembangnya industri berbasis singkong seperti; tapioka, mocaf, bioetanol, sorbitol, gula cair, pakan ternak, industri makanan camilan, dan lain-lain.Berkembangnya industri berbasis singkong hendaknya ditopang pertanian singkong yang optimal. Saat ini para petani masih banyak yang enggan bertanam singkong karena dirasa panennya lama dan harganya murah dibandingkan komoditas yang lain. Dan untuk beberapa daerah tertentu pemasarannya dalam jumlah besar tidak mudah karena  belum ada industri pengolahannya. Jika masing-masing daerah membangun industri pengolahan singkong maka produksi singkong dapat ditingkatkan dan petani tidak kesulitan untuk memasarankannya.Agar petani mendapat produksi yang maksimal, maka sebaiknya menggunakan bibit singkong yang unggul dan teknik budidaya yang baik pula dengan pemupukan dan pengairan yang cukup. Seringkali petani singkong di Indonesia menganggap bahwasanya singkong adalah tanaman yang tahan banting sehingga tidak memerlukan perawatan yang intensif. Hal ini yang seringkali menyebabkan panen yang kurang maksimal dan kurang menguntungkan, jika petani memperhatikan hal ini tentu akan mendapatkan laba yang optimal. Petani dan produsen perlu membuat kesepakatan harga yang sama-sama menguntungkan, petani menjual singkong tidak terlalu tinggi, dan produsen tidak membeli dengan harga terlalu murah.
Bagi yang berminat untuk berwirausaha tepung mocaf, maka perlu mempelajari teknik produksi pembuatan tepung mocaf. Proses produksi tepung mocaf relatif mudah, sederhana,  dan tidak memerlukan teknologi yang tinggi. Sehingga, bagi para pemula yang ingin menerjuni bisnis ini tidak memerlukan proses belajar lama. Usaha produksi tepung mocaf juga dapat dimulai dari skala home industri dengan investasi yang tidak terlalu tinggi. Secara umum, alat yang dibutuhkan untuk memproduksi tepung mocaf adalah; alat pengupas dapat menggunakan pisau, mesin slicer/pemotong, mesin penepung, mesin ayakan, dan alat pengemas. Kita dapat memulai usaha ini hanya dapat bermodal mesin penepung, sedangkan alat yang lain dilakukan secara manual. Mesin pemotong dapat diganti dengan menggunakan pisau atau alat semi mekanis, mesin ayakan dapat diganti dengan menggunakan ayakan terbuat dari kain kelambu yang halus.Hal ini dilakukan jika memang kondisi keuangan kita sangat terbatas.Memang untuk memproduksi tepung mocaf dengan skala besar tentu membutuhkan infestasi yang besar.  
Prinsip pembuatan tepung mocaf adalah dengan memodifikasi sel singkong dengan cara fermentasi, sehingga menyebabkan perubahan karakteristik yang dihasilkan berupa naiknya viskositas (daya rekat), kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan solubility (kemampuan melarut) sehingga memiliki tekstur yang lebih baik dibandingkan dengan tepung tapioka atau tepung singkong biasa. Alur proses produksi tepung mocaf (modified cassava flour) adalah sebagai berikut:
1)      Sortasi Dan Penimbangan.
2)      Sebelum singkong diproses, disortasi terlebih dahulu untuk memisahkan singkong yang rusak dan tidak memenuhi standar mutu, kemudian setelah itu dilakukan penimbangan agar dapat diketahui berat kotor dan berat bersih sehingga dapat dianalisis total produk jadi dan dapat dihitung tingkat kegagalan.
3)      Pengupasan.
4)      Pengupasan kulit singkong dapat dengan menggunakan pisau. Singkong yang telah dikupas sebaiknya ditampung dalam bak atau ember yang berisi air sehingga tidak menyebabkan timbulnya warna kecoklatan dan sekaligus menghilangkan asam sianida (HCN).
5)      Pencucian
6)      Setelah dikupas, kemudian singkong dicuci dengan menggunakan air bersih. Hindari penggunaan air yang mengandung kaporit atau terkontaminasi bahan kimia. Penggunaan air yang mengandung kaporit akan dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri fermentasi terhambat.
7)      Slicing / chiping (pemotongan).
8)      Singkong yang telah dicuci bersih kemudian dipotong-potong tipis-tipis berbentu chip berukuran kurang lebih 0.2- 0.3 cm. Pemotongan bisa secara manual dengan menggunakan pisau atau dengan menggunakan mesin slicing.
9)      Fermentasi / Perendaman.
10)  Proses fermenasi chips singkong dilakukan dengan menggunakan drum plastik yang diisi air kemudian dilarutkan starter Bio-Mocaf. Perendaman chip singkong diupayakan sedemikian hingga seluruh chip singkong tertutup air. Proses perendaman dilakukan 30-48 jam. 
11)  Pencucian.
12)  Setelah proses fermentasi selesai, kemudian dilakukan pencucian kembali untuk menghilangkan sifat asam pada chips singkong hingga tidak berasa dan tidak berbau. lebih cepat kering.
13)  Pengeringan / Penjemuran.
14)  Setelah chips dicuci bersih, kemudian tiriskan dengan menggunakan penjemuran terbuat dari anyaman bambu/tampah, plat seng dengan ukuran bisa 120 cm x 60 cm, atau dapat dengan menggunakan terpal. Pengeringan bisa dilakukan dengan menggunakan energi matahari. Penjemuran dengan menggunakan terpal lebih praktis penanganannya jika terjadi hujan. Penjemuran dengan mengunakan nampan dari plat lebih cepat kering. Jika panas matahari normal maka penjemuran dapat dilakukan minimal 3 hari.
15)  Penepungan.
16)  Setelah chips singkong betul-betul kering hingga mencapai kadar air maksimal 13%, selanjutnya dapat dilakukan proses penggilingan dengan menggunakan mesin penepung.
17)  Pengayakan
18)  Pengayakan dilakukan untuk mengasilkan tepung mocaf yang lembut. Pengayakan dapat dilakukan secara manual menggunakan saringan atau dengan menggunakan mesin sehingga kapasitasnya lebih besar dan waktu yang digunakan lebih singkat dengan mesh 100-200.
19)  Pengemasan.
20)  Setelah menjadi produk tepung kemudian dikemasi sesuai ukuran yang kita kehendaki. Jenis kemasan sesuai dengan tujuan pasar, kemasan plastik umumnya digunakan untuk produk eceran, sedangkan kemasan karung umumnya pemasaran ke industri atau pedagang besar.





Proses Produksi Nata De Soya









Jual Bibit Bakteri Nata (Acetobacter xylinum)
Telp. 087731375234



Limbah cair produk olahan kedelai difermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum sehingga dihasilkan produk nata de soya. Pemanfaatan air limbah industri tahu-tempe sebagai produk pangan memberikan manfaat yang besar bagi pengusaha industri tahu-tempe, baik nilai ekonomis maupun manfaat dalam upaya penanganan limbah. Pengolahan limbah cair tahu-tempe menjadi nata de soya merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pencemaran. Oleh karena itu, pengembangan usaha nata de soya perlu digalakan guna mengatasi pencemaran lingkungan di wilayah pemukiman sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Limbah cair industri tahu dan tempe mengandung protein dan karbohidrat yang cukup tinggi, kandungan protein dan karbohidrat dalam limbah cair tahu dan tempe tersebut dapat menjadi media hidup yang sangat baik bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini mengubah karbohidrat dan protein dalam limbah cair tahu-tempe menjadi serat selulosa dengan tekstur yang kenyal. Limbah air tahu (whey tahu) dan limbah cair tempe selain mengandung protein juga mengandung vitamin B terlarut dalam air, lestin dan oligosakarida. Berdasarkan kandungan unsur kimiawinya.
Limbah cair tahu-tempe menjadi salah satu aliterernatif bahan baku untuk pembuatan produk nata. Nata berbahan baku limbah kedelai memiliki karakteristik produk yang secara kenampakan sedikit kekuningan, cita rasa yang khas kedelai, kenyal namun lebih mudah putus dibandingkan dengan nata de coco lebih ulet, dan kandungan seratnya cukup tinggi.
Limbah cair industri tahu-tempe yang telah didiamkan kurang lebih 2-3 hari (agar pH turun 3-4 sehingga asam), disaring dengan kain kasa agar kotoran-kotoran dan partikel kasar dapat dipisahkan, kemudian direbus dengan panci dengan tungku berbahan bakar kayu, setelah mendidih ditambahkan ZA 80 gram, gula pasir 100 gram, asam cuka 120 ml untuk media 50 liter limbah cair tahu atau tempe, diaduk-aduk kurang lebih 10-15 menit kemudian dituangkan kedalam nampan yang sudah disiapkan dengan penutup koran yang telah diikat dengan karet ban. Susun nampan yang telah diisi media larutan tersebut pada rak. Nampan dapat disusun bertingkat 5-10 nampan dengan bersilangan. Setalah dingin kurang lebih 5-7 jam, media larutan dalam nampan tersebut diinokulasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylnum kurang lebih 10% dari media larutan dalam nampan. Proses fermentasi akan berlangsung 8 – 10 hari. Lakukan pemanenan. Tampung nata de soya hasil panen dalam drum plastik yang diisi dengan air. Penyimpanan akan dapat bertahan lama apabila selalu diganti dengan air.


Nata De Cassava









Jual Buku Nata De Cassava, Bibit Acetobacter xylinum, Enzim Amylase
Telp. 087731375234

Singkong adalah salah satu komoditas pertanian unggulan Indonesia. Singkong telah banyak diolah menjadi aneka produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi diantaranya adalah; tapioka, tepung mocaf, bioetanol, casapro, pakan ternak, dan berbagai aneka makanan camilan.  saat ini, singkong telah dikembangkan menjadi nata de cassava-bahan baku minuman kemasa. Pengolahan singkong menjadi nata de cassava merupakan temuan yang sangat bermanfaat bagi industri minuman karena bisa menjadi subtitusi  nat de coco yang kebutuhannya sangat tinggi. Industri minuman nata de coco memiliki permintaan yang sangat tinggi karena selain memiliki pasar domestik juga pasar manca negara. Kebutuhan pabrik minuman nata de coco masih belum terpenuhi secara maksimal, karena masih terkendala keterbatasan bahan baku air kelapa. Nata de cassava yang berbahan baku singkong memiliki keunggulan bahan baku yang melimpah dan karakteristik natanya tidak beraroma menyengat, serta lebih kenyal tidak terlalu alot.
Nata de cassava secara tampilan mirip dengan nata de coco yaitu berbentuk jel, warna putih, kenyal, berserat tinggi. Nata de cassava lebih lunak tidak alot, dan aroma nya tidak terlalu menyengat dibanding dengan nata de coco-nata berbahan baku air kelapa. Nata merupakan bahan baku produk minuman kemasan yang sudah sangat popular dan banyak disukai kalangan. Saat ini kebutuhan air kelapa untuk industi nata de coco semakin bersaing, seiring dengan tingginya permintaan nata de coco. Ketersediaa bahan baku singkong yang melimpah menjadi keunggulan tersendiri pengembangan industry nata de cassava sebagai subtitusi nata de coco. Urutan proses pembutan nata de cassava adalah sebagai berikut:
1. Pengupasan
Singkong yang telah ditimbang, kemudian dikupas dengan menggunakan pisau. Kemudian singkong yang telah dikupas ditampung dalam ember yang berisi air agar tidak terjadi penambahan asam sianida yang menyebabkan warna singkong menjadi biru dan berasa pahit.
2. Pencucian
Singkong yang telah dikupas, kemudian dicuci hingga bersih dengan menggunakan air yang mengalir.
3. Pemarutan
Proses pemarutan dilakukan dengan menggunakan mesin pemarut. Proses pemarutan dengan menggunakan mesin pemarut lebih efesien dan lebih cepat.
4.Pengenceran
Singkong yang telah diparut kemudian diencerkan dengan penambahan air bersih kurang lebih 50 liter per 5 Kg umbi singkong yang telah dikupas. Air yang digunakan untuk pengenceran harus dengan menggunakan air yang bebas dari bahan kimia seperti kaporit atau tercemar bahan kimia lainnya.
5. Perebusan I
Tambahkan enzim αlfa-amilasi sebanyak 10-15 ml. Kemudian lakukan pengadukan sampai merata. Setelah mendidih, larutan diangkat kemudian pada saat proses pendinginan mencapai suhu kurang lebih 60-65˚C ditambahkan enzim gluco-amylase sebanyak 10-15 ml, biarkan sampai dingin kurang lebih 2-3 hari.
6.Penyaringan
Setelah larutan menjadi dingin lakukan penyaringan dan pemerasan/pengepresan dengan menggunakan kain atau menggunakan alat pengepres mekanik.
7.Perebusan II
Larutan sebanyak 50 liter yang telah disaring dan dipisahkan ampasnya, kemudian direbus lagi. Kemudian tambahkan asam asetat sebanyak 200 ml. Setelah mendidih tambahkan ZA (ammonium sulfat) sebanyak 150 gram.
8.Fermentasi / inkubasi
Siapkan nampan bersih, tutup koran dengan diikat karet ban secara melingkar pada bagian tepi nampan, lalu susun pada rak. Jika media larutan singkong telah mendidih, kemudian buka salah satu bagian ujung nampan, tuangkan larutan dalam keadaan mendidih ke dalam nampan kemudian ditutup kembali dan diikat dengan tali karet ban, disusun tumpuk bersilangan hingga 6-8 nampan di rak. Setelah dingin, kemudian diinokulasi dengan penambahan bibit Acetobacter xylinum sebanyak 10 % atau kurang lebih 100-120 ml, biarkan hingga 8-10 hari.


Bacillus subtilis







Jual Culture Bacilus subtilis
Telp. 087731375234


Bacillus subtilis, dikenal juga sebagai hay bacillus or grass bacillus, adalah bakteri Gram-positif, katalase-positif, ditemukan di dalam tanah dan saluran pencernaan ruminansia dan manusia. Sebuah anggota genus Bacillus, B. subtilis adalah berbentuk batang, dan dapat membentuk endospora pelindung yang keras, memungkinkan untuk mentoleransi kondisi lingkungan yang ekstrim. B. subtilis secara historis telah diklasifikasikan sebagai aerob obligat, meskipun ada bukti bahwa bakteri ini adalah anaerob fakultatif. B. subtilis dianggap sebagai bakteri Gram-positif yang dipelajari paling baik dan organisme model untuk mempelajari replikasi kromosom bakteri dan diferensiasi sel. Bakteri ini adalah salah satu bakteri dalam produksi enzim yang disekresikan dan digunakan pada skala industri oleh perusahaan bioteknologi.
Bacillus subtilis merupakan bakteri Gram-positif, berbentuk batang dan katalase-positif. Bakteri ini pada awalnya dinamai Vibrio subtilis oleh Christian Gottfried Ehrenberg,[3] dan dinamai ulang menjadi Bacillus subtilis oleh Ferdinand Cohn pada tahun 1872[4] (subtilis adalah bahasa Latin untuk 'baik'). Sel B. subtilis biasanya berbentuk batang, dengan panjang sekitar 4-10 mikrometer (μm) dan diameter 0,25-1,0 μm, dengan volume sel sekitar 4,6 fL di fase stasioner.[5] Seperti anggota lain dari genus Bacillus, B. subtilis dapat membentuk endospora, untuk bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang ekstrim dari suhu dan pengeringan.[6] B. subtilis adalah anaerob fakultatif[7] dan telah dianggap sebagai aerob obligat sampai 1998.
 B. subtilis memiliki banyak flagela, yang memberikan kemampuan untuk bergerak cepat dalam cairan. B. subtilis telah terbukti sangat mudah untuk manipulasi genetik, dan telah banyak diadopsi sebagai organisme model untuk penelitian laboratorium, terutama dari sporulasi, yang merupakan contoh sederhana dari diferensiasi selular. Dalam hal popularitas sebagai organisme model laboratorium, B. subtilis sering dianggap sebagai ekuivalen Gram-positif dari Escherichia coli, suatu bakteri Gram-negatif yang diteliti secara luas.[butuh rujukan]

Aspergillus oryzae








Jual Culture Dan Starter Aspergillus oryzae
Telp. 087731375234


Aspergillus oryzae is a filamentous fungus, or mold, that is used in East Asian (particularly Japanese and Chinese) food production, such as in soybean fermentation. A. oryzae is utilized in solid-state cultivation (SSC), which is a form of fermentation in a solid rather than a liquid state. This fungi is essential to the fermentation processes because of its ability to secrete large amounts of various degrading enzymes, which allows it to decompose the proteins of various starches into sugars and amino acids. This fungi is characterized by a round vesicle with extending conodial chains, which appear as white and fluffy strands on the substrate that the fungi inhabits.
The full genome of A. oryzae  contains eight chromosomes and the mitochondrion (which is circular, rather than linear) and is estimated to be 37.6Mb, or 37,878,829 bp, in size. It contains 12,074 genes, and is 7-9Mb longer (or 25-30% larger) than other members of the Aspergillus genus, namely the species A. nidulans and A. fumigates. A. oryzae's linear genome is made up of 48.25% GC-content, or guanine-cytosine content, which is an indicator of a higher melting point. There are 12,084 ORFs (open reading frames) within the genome, which may potentially code for essential proteins or peptides. Coding regions account for 44.02% of the genome, whereas there are only 7.48% intronic regions. Additionally, the A. oryzae genome contains 270 tRNA genes, and only 3 rRNA genes.
When comparing the three Aspergillus species, it was found that in A. oryzae a combination of syntenic blocks derived from a singular ancestral region and blocks specific to A. oryzae arranged mosaically comprised the full genome. The A. oryzae-specific sequence codes for metabolite synthesis and specific gene expansion for secreting hydrolytic enzymes when used in SSF, or solid-state fermentation, which makes it such an effective microbe in fermentation processes.
Close relatives of Aspergillusoryzae, Aspergillusflavus and Aspergillusniger contain syntenic genes from a singular ancestor, such as a set of twenty-five proteins which code for a pathway for the poisonous aflatoxin. Yet unlike in relatives Aspergillusflavus and Aspergillusniger, these genes fail to be expressed in Aspergillusoryzae, indicating that they were inactivated during its specific evolution.[5] Because A. oryzae has been domesticated, it is possible that gene expansion is due to horizontal gene transfer, as is seen in A. oryzae-specific genes, which use clonal lines to transfer chromosomes.
A. oryzae, along with most other members of the Aspergillus family, has a hyphae that is hyaline and septate, and conidiophore, which ends at a round-shaped vesicle. From the vesicle extend long filaments called a conodial chain, which appear as long fluffy strands on the surface of the substrate. The spore-bearing cells, or asci, are produced within the ascocarp, or the fruiting body. The primary enzyme secreted by the filamentous fungi is called amylase, which lends a sweet taste to the food it is fermented into. This enzyme is most efficient at a temperature of 35-40 degrees Celsius. Most other enzymes found in A. oryzae grow at a temperature of around 30-35 degrees Celsius.
Members of the Aspergillus genus are distinct from other microbes due to the fact that they utilize both a primary and secondary metabolic system. The functionality of the Aspergillus metabolism depends on its carboxylic acids, which break down into fatty acid chains that are composed of a unique set of fatty acid synthase complexes. These chains aid in the development of the Aspergillus cell membrane and the enzyme storage vesicles. The primary metabolism of A. oryzae receives its energy through contact with energy sources (e.g. grains or starches). Once it makes contact with an energy source, it secretes enzymes that degrade the proteins and peptide bonds within the starch and convert them into amino acids and sugars for consumption.
The secondary metabolism utilizes acidic compounds to suppress metabolic pathways, which allows  A. oryzae to produce secondary metabolites. These metabolites grant A. oryzae the ability to modify themselves according to their current environment--they are able to increase or decrease their fitness to allow optimum metabolic efficiency. This ensures that fungi within the Aspergillus genus are able to adapt to a wide range of environments. Most of what is currently known about secondary metabolites is comprised of the polyketide molecules generated from the acidic compounds within the secondary metabolism.
It was previously thought that A. oryzae could only reproduce asexually through mitosis by dispersing spores using conidiophores. Yet, it was recently found to contain an alpha mating-type gene within its genome which implicates a heterosexual mating process. Despite this, asexual reproduction is favored in all conditions, and rarely will sexual reproduction be utilized. A. oryzae grows under warm temperatures and moist environments, as most fungi and mold do. As it matures, the filaments grow longer into a white, fluffy texture.
A. oryzae tend to prefer environments that are rich in oxygen, as they are molds that inhabit the surface of various substrates that provide beneficial nutrients to them. They also prefer environments between 30 and 40 degrees Celsius that have adequate moisture for the spores to cultivate and propagate. A. oryzae are a domesticated species and are most commonly found in northern regions, specifically in East Asia, but can be found anywhere. The Aspergillus genus is extremely common, although A.oryzae specifically is more rare due to its domestication for use in fermentation in the food industry.
A. oryzae is considered to be a pathogenic microbe because of the fungi's contamination of carbon-rich and starchy foods such as beans, rice, or bread as well as various trees and plants. Also, the Aspergillus genus is characterized by its mycotoxins, primarily kojic acid, produced by the secondary metabolism of A. oryzae and close relatives. A. oryzae can also produce toxins such as maltoryzine, cyclopiazonic acid, and b-nitropropionic acid due to its close relationship to A. flavus.[3]
Despite this, A. oryzae has been determined to be relatively safe for use in food processing because of its domestication and evolution from wild-type relatives A. flavus and A.niger, which led to an inactivation the proteins that code for its toxin pathway. The production of kojic acid in members of the Aspergillus genus was found to be strain-specific and and environmentally-based. For A. oryzaespecifically, the release of the mycotoxinkojic acid could be triggered by an environment of extended fermentation, but as long as adequate precautions are taken in industrial processes, the fungi is safe.[9] Other than this, the greatest risk from A. oryzae is airborne spores that could be inhaled in large amounts by industrial workers.
As A. oryzae is a fungus native to humid East Asian regions, it is a microorganism that is primarily used in Japanese and Chinese food production. [6] A. oryzae is utilized in solid-substrate cultivation (or SSF) which is a fermentation process used to make various different kinds of foods, from soy sauce to sake and vinegar due to its ability to secrete a multitude of useful enzymes. A. oryzae is said to have the greatest potential in efficient production of enzymes of those within the Aspergillus genus, and is therefore taken advantage of in the fields of genetic engineering and biotechnology to create industrial enzymes for even more profitable manufacturing.
In solid-substrate cultivation, A. oryzae is sprinkled over rice, barley, or soybeans and fermented at a specific temperature ideal for fungus growth. The A. oryzae is sprinkled on the grain at a temperature under 45 degrees Celsius, and the fungus (called tanekoji or "seed koji" by the Japanese) grows on the steamed rice, which then raises in temperature and moisture level to allow the fungus to propagate. The enzymes it secretes break down the starches and proteins within the grains and convert it into amino acids and sugars. A grain with properly-grown fungi mycelium is characterized by fluffy, white filaments covering the outside.
The production of koji, the product of the filamentous fungus A. oryzae and the chosen grain, and the techniques to cultivate it are kept a secret by each koji company.

Kamis, 20 Juni 2019

Acetobacter aceti





Jual Culture Acetobacter aceti
Telp. 087731375234



Acetobacter is a genus of acetic acid bacteria. Acetic acid bacteria are characterized by the ability to convert ethanol to acetic acid in the presence of oxygen. Of these, the genus Acetobacter is distinguished by the ability to oxidize lactate and acetate into carbon dioxide and water. Bacteria of the genus Acetobacter have been isolated from industrial vinegar fermentation processes and are frequently used as fermentation starter cultures. Acetobacter aceti is a Gram-negative bacterium that moves using its peritrichous flagellaLouis Pasteur proved it to be the cause of conversion of ethanol to acetic acid in 1864. It is a benign microorganism which is present everywhere in the environment, existing in alcoholic ecological niches which include flowers, fruits, and honey bees, as well as in water and soil. It lives wherever sugar fermentation occurs.[1] It grows best in temperatures that range from 25 to 30 degrees Celsius and in pH that ranges from 5.4 to 6.3. For a long time it has been used in the fermentation industry to produce acetic acid from alcohol. Acetobacter aceti is an obligate aerobe, which means that it requires oxygen to grow.
Acetobacter aceti is economically important because it is used in the production of vinegar by converting the ethanol in wine into acetic acid. The acetic acid created by A. aceti is also used in the manufacturing of acetate rayonplastics production, rubber production, and photographicchemicals. A. aceti is considered an acidophile, which means it is able to survive in acidic environments, due to having an acidified cytoplasmwhich makes nearly all proteins in the genome to evolve acid stability. A. aceti has become important in helping to understand the process by which proteins can attain acid stability.

Production and characterisation of a biosurfactant isolated from Pseudomonas aeruginosa




Jual Culture Mikroba Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027, Pseudomonas aeruginosa FNCC
Telp. 087731375234




UW-1 produced 17–24 g L−1 rhamnolipid in vegetable oil-containing media in shake flask cultures in 13 days. In time course studies of growth and rhamnolipid production in a salts medium containing 6% canola oil, total bacterial count reached 2.6 × 1010 CFU ml−1 after 48 h and a maximum rhamnolipid yield of 24.3 g L−1 was obtained after 9 days. Rhamnolipid components were purified and separated by chloroform-methanol extraction and TLC chromatography. The major rhamnolipid components were characterised as L-rhamnosyl-β-hydroxydecanoyl-β-hydroxydecanoate and L-rhamnosyl-L-rhamnosyl-β-hydroxydecanoyl-β-hydroxydecanoate by nuclear magnetic resonance and mass spectrometry. The components were separated preparatively by silica gel column chromatography. The recovered monorhamnosyl fraction contained no dirhamnosyl moiety while the recovered dirhamnosyl fraction contained 5% of the monorhamnosyl moiety when analyzed by HPLC. The ratio of mono- to dirhamnosyl components produced by P. aeruginosa UW-1 was determined by HPLC to be 4 : 1 by weight. Purified mono- and dirhamnosyl components had the same CMC value of 40 μg ml−1 and decreased the surface tension of water to 27.7 and 30.4 dynes cm−1, respectively.


Posting Lama ►

BIO-MOCAF

BIO-MOCAF
Formula Pembuatan Tepung Mocaf

Acetobacter xylinum

Acetobacter xylinum
Bibit Nata De Coco
 

Copyright © 2012. AGROTEKNO LAB - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz