Selasa, 02 Juli 2019

Semut Rang Rang Penghasil Kroto








Salah satu bisnis yang sedang diminati saat ini adalah budidaya semut rang rang. Semut rang rang menghasilkan kroto yang biasa digunakan sebagai pakan burung. Kroto semakin banyak diminati sebagai pakan yang berkualitas dan bernilai gizi tinggi yang sangat diperlukan untuk menghasilkan burung maupun ikan dengan kualitas terbaik. Kroto menjadi produk pakan yang memiliki nilai jual tinggi berkisar Rp.250.000 per Kg.
Awalnya kroto diburu di alam bebas dengan mengambilnya dari sarang semut rangrang. Sarang semut rangrang ini bisa ditemukan di hutan ataupun perkebunan yang selalu bertengger diantara rerimbunan pepohonan. Semakin tingginya permintaan kroto, maka keberadaan kroto di alam bebas semakin sulit ditemukan. Maka jangan heran apabila kroto dijual dengan harga yang sangat tinggi dibanding pakan lainnya. Karena kelangkaan inilah yang menjadi dasar untuk membudidayakan kroto.

1. Kehidupan (Habitat) Semut Rangrang
Semut rangrang adalah hewan yang tidak sulit untuk ditemukan karena hidup secara berkelompok atau berkoloni. Satu koloni semut rangrang bisa mencapai setengah juta ekor.



Dalam satu koloni tersebut terdapat beberapa sarang. Yang mana tiap sarangnya dihuni oleh 4.000 hingga 5.000 ekor semut, namun ini tergantung dari ukuran sarangnya. Wilayah kekuasaan semut rangrang bisa mencapai setengah hektar atau 1000 m2. Dengan wilayahnya ini menjadikan semut rangrang merupakan hewan territorial yang sangat mempertahankan daerah kekuasaannya. Jadi apabila ada serangga maupun manusia yang mengganggu daerahnya maka bisa diserbu atau menjadi santapan bagi koloni mereka.
Sarang semut rangrang dibangun dari kumpulan dedaunan yang dianyam sedemikian rupa. Sehingga tak heran semut rangrang dijuluki juga semut penganyam. Adapun pohon yang paling suka dihinggapi semut rangrang adalah pohon yang memiliki daun yang lebar dan juga lentur atau daun yang kecil tapi rimbun. Di lingkungannya, semut rangrang merupakan hewan yang berbahaya karena ia berperan sebagai predator. Namun, di tempat seperti kebun jeruk atau buah-buahan keberadaan semut rangrang sangat berguna utuk mengendalikan hama.
2. Perkembangbiakan Semut Rangrang
Semut rangrang berkembangbiak dengan cara bertelur. Jadi apabila ada semut rangrang betina bertelur maka seluruh koloni akan bersama-sama menjada telur tersebut. Jaring putih yang terdapat pada telur mereka manfaatkan untuk membangun sarang. Sehingga dengan sarang tersebut dapat digunakan untuk menumbuhkan telur yang berkembang menjadi larva, pupa dan akhirnya imago. Semut akan cenderung menghindar dari berbagai ganggun untuk menumbuhkan telur dan membuat sarang. Sehingga sering kita melihat banyak sarang semut di temukan di tajuk pohon tertinggi. Namun, saat musim panas semut akan berpindah ke tempat yang lebih teduh dan jauh dari sinar matahari. Sama seperti lebah, dalam satu koloni semut terdiri dari ratu semut, semut pejantan, semut pekerja dan prajurit. Keempat jenis ini punya peran yang berbeda yakni: Ratu semut yang berperan sebagai penghasil telur dan sekali bertelur bisa mencapai ribuan butir. Ukuran badan ratu semut bisa 10 kali lebih besar dari semut biasa. Dan ratu semut biasanya hanya berdiam diri di sarangnya saja.
Semut pejantan berperan untuk mengawini sang satu semut saja. Dan ukurannya lebih kecil dari ratu semut. Namun sayangnya umur semut pejantan lebih singkat yakni ketika mengawini ratu semut maka langsung mati. Adapun semut pekerja berperan membantu semut muda yang dihasilkan dari ratu semut. Dan bisanya semut pekerja adalah semut betina yang mandul. Ukurannya hanya berkisar 5-6 mm. Beda halnya dengan semut prajurit yang berperan untuk menjaga telur dan melindungi koloni dari berbagai gangguan dan mengatur makanan semut dalam satu musim. Semut prajurit memiliki jumlah yang sangat banyak dalam satu koloni. Dan mimiliki ukuran 8-10 mm dengan rahang dan kaki yang sangat kuat serta di sepasang kepalnya terdapat antena.

3. Makanan Semut Rangrang
Makanan semut rangrang hampir sama dengan serangga kecil lainnya yakni protein dan sari gula. Kebutuhan nutrisi yang mereka peroleh didapat dari nektar dan simbiosis mutualisme dengan serangga lain semisal kutu-kutuan. Jadi semut rangrang mendapatkan nutrisi dari kutu daun dan kutu daun mendapatkan perlindungan dari berbagai predator yang ingin memangsanya.

Nah, sebaliknya apabila serangga tersebut tak bisa menghasilkan sari madu lagi maka semut rangrang akan berbalik memangsanya. Semut rangrang akan memperoleh nutrisi dari daun, bunga dan serangga lain seperti kutu, lebah dan cicak. Namun terkadang hewan ini juga memakan sisa bangkai dari hewan besar semisal ayam. Hal yang cukup mengerikan adalah semut rangrang bisa saja memangsa hewan yang ukurannya beratus kali lipat dari tubuhnya dengan cara menyerang dan melumpuhkan mangsa secara berkoloni.
4. Budidaya Semut Rangrang
Sebagaimana telah kita singgung diatas bahwa semut rangrang banyak dibudidayakan sejalan dengan berkembangnya hobi seseorang terhadap burung dan memancing. Jadi campuran antara telur dan larva bisa dijadikan sebagai pakan yang bernilai gizi tinggi untuk burung dan ikan atau istilahnya kroto. Berbagai metode dalam beternak kroto telah berkembang cukup pesat di tahun belakangan ini. Karena dalam membudidayakan kroto tidak hanya di sarang atau dedaunan. Namun juga dapat dilakukan di rumah dengan model yang berbeda. Diantaranya dapat menggunakan media toples, bamboo ataupun plastik container. Dengan modal yang terbilang cukup besar yaitu sekitar 30 juta namun setelah berjalan 18 bulan maka nantinya akan bisa menghasilkan keuntungan bersih 54 juta atau hampir dua kali lipat dari modal.
5.  Cara Mudah Ternak Kroto Dengan Paralon
Diatas telah kami jelasi cukup lebar mengenai semut rangrang yang merupakan penghasil kroto terbaik. Di bab ini kamu coba jabarkan bagaimana cara mudah dalam beternak kroto agar menghasilkan kualitas terbaik. Sebenarnya ada 3 langkah yang harus dipahami bagi pembudidaya ternak kroto. Pertama tahap persiapan ternak kroto lalu pemberian pakan dan terkahir pemanenan. Jadi bagi seorang pemula ketiga langkah ini harus dijalani secara berurut dan sabar agar menghasilkan kualitas kroto yang baik.

5.1 Tahap Persiapan Bibit Untuk Ternak Kroto
Tahap persiapan ini dimulai dari pengadaan bibit hingga terciptanya kandang yang telah diletakkan tabung atau media lain. Namun dalam hal ini kami tuntun dengan menggunakan tabung sebagai media budidayanya.

A. Penyediaan Bibit Alami Kroto
Bibit kroto yang terbaik adalah hasil tangkapan di alam atau dapat juga membelinya dari petani yang sudah berpengalaman minimal 3 tahun dalam pembudidayaan tersebut. Namun kami tetap mendahulukan untuk mencari bibit di alam agar memang hasilnya nanti lebih bagus dan menjanjikan. Namun apabila juga tidak ditemukan Anda bisa beli dari pembudidaya kroto yang biasa dijual dalam kemasan toples dengan harga yang cukup mahal yakni 150 ribu – 200 ribu rupiah.

B. Pembuatan Kandang untuk Ternak Kroto
Media yang kami gunakan dalam hal ini adalah paralon atau pipa pvc. Alasan utama penggunaan paralon adalah lebih praktis, simple, flesibel dan sangat mudah perawatannya. Adapun kelebihan dari penggunaan paralon adalah sebagai berikut: Paralon sudah berbentuk tabung hanya tinggal memotongnya saja dengan ukuran tertentu. Dan kemudian bisa langsung diterapkan di rak dengan rapi. Paralon bisa digunakan dalam waktu yang cukup lama yakni 5-10 tahun. Dengan kedua sisi yang terbuka maka akan merangsang pertumbuhan semut rangrang dengan cepat. Dengan bentuknya seperti tabung jadi apabila letak di rak posisinya sangat menguntungkan. Lebih mudah saat pemanenan dan dapat mengurangi angka kematian semut dan juga sangat mudah dibersihkan.
Dari penjelasan diatas kami telah menampilkan kelebihan penggunaan paralon dalam hal ternak kroto. Kali ini kami akan mengajarkan tentang cara membuat kandang yangbagus dan benar. Pertama buatlah dengan model bersusun 2 tingkat. Rak dalam hal ini bisa dibuat menggunakan bambu, besi atau kayu sejenis. Namun ingat ukuran disesuaikan dengan tempat atau lokasinya. Kedua diatas rak kaki letakkan semacam wadah plastik bisa mangkuk atau potongan plastik. Dan isi setiap wadah tadi dengan cairan bisa air juga oli. Hal ini bertujuan agar semut rangrang tidak keluar dari medianya. Jangan sampai bagian rak bersentuhan dengan dinding atau benda lain semisalnya. Gunakan paralon dengan diameter 4 atau 5 inci lalu potong dengan panjang sekitar 50 cm atau bisa disesuaikan dengan lebar rak. Setelah itu susunlah paralon tersebut dengan rapi dan masukkan dedaunan agar semut rangrang merangsang untuk membuat sarang.
Langkah terakhir adalah tabor bibit koloni semut rangrang di kandang tersebut. Namun yang perlu diingat adalah penempatan kandang harus berada jauh dari berbagai gangguan semisal ayam atau serangga besar lainnya. Karena dalam hal pembudidayaan ini semut butuh ketenangan. Dan alangkah lebih baiknya ditempatkan diruangan tertutup.

C. Penaburan Bibit untuk Ternak Kroto
Apabila penempatan pipa dan pembuatan kandang telah selesai dilakukan maka selanjutnya adalah menaburkan bibit semut rangrang ke dalam paralon. Pengunaan paralon dalam hal ini sangat praktis karena ketika panen dan hendak dijual akan lebih mudah penerapannya. Jadi media paralon cukup diletakkan saja diatas rak yang telah disusun rapi. Dalam hal ini semut rangrang dijual dengan bentuk tople atau botol plastik, Jadi cukup buka tutup toples dan letakkan di tumpukan paralon lalu beri air gula di dalamnya. Maka dengan sendirinya semut rangrang akan berkeliaran dan akhirnya masuk ke dalam tumpukan paralon untuk bersarang. Tunggu hingga semut rangrang merasa betah tinggal di area kandang. Setalah itu hanya tinggal melakukan perawatan secara rutin agar menghasilkan kroto yang maksimal.
5.2 Tahap Pemberian Pakan Untuk Ternak Kroto
Pakan kroto adalah sejenis serangga seperti misalnya cicak, belalang, jangkrik, ulat atau hewan kecil lainyya. Namun bisa juga diberi makanan lainnya seperti ayam rebusan, tulang-tulangan yang telah dipecah-pecah. Dalam hal protein bisa berikan air gula agar asupan karbohidratnya terpenuhi. Atau bisa juga dari kutu daun seperti aohid. Akan tetapi hal ini akan sulit karena butuh pencarian kutu  pahid lagi.
Bisa menggukan media yang datar seperti piring plastik. Dan letakkan makanan dan protein tersebut diatasnya. Misalnya cecak, belatung atau daging rebusan ayam. Peletakan rak ini di bagian samping rak. Ingat lumpuhkan terlebih dahulu apabila memberi pakan semisal jangkrik yang gampang sekali untuk kabur. Sebagai sumber karbohidrat dalam hal ini adalah gula maka bisa diletakkan di dalam mangkuk. Campurkan 2-3 sendok gula dengan 200 ml air. Umumnya larutan tersebut akan habis dalam waktu 2-3 hari.
5.3 Tahap Pemanenan Untuk Ternak Kroto
Kroto baru bisa dipanen setelah berusia 15-20 hari. Karena telur ke larva  mempunyai daur hidup 15-20 hari. Ingat pemanena dapat dilakukan apabila sarang telah penuh dengann telur atau kroto yang berwarna putih. Sebagai awalan biarkan saja dahulu perkembangbiakan semut bertambanyak banyak. Setidaknya tunggu saja selama 6 bulan hingga benar-benar populasinya banyak. Setalh itu bisa dilakukan pemanenan 2 kali setiap bulannya. Atau bisa juga dilakukan pemanenan setiap hari dengan memperbanyak jumlah sarang dan waktu panennya.

Tahapan pemanenan kroto adalah sebagai berikut:
Sediakan saja wadan melengkung semacam ember atau baskom. Lalu letakkan saringan dari kawat yang ukuran jaringnya kira-kira bisa menghambat semut masuk ke dalam baskom.
Pakai sarung tangan untuk menghidari gigitan semut.  Tumpahkan media ternak dalam hal ini paralon ke dalam baskom yang telah diberi saringan. Nah, kroto akan jatuh dengan sendirinya sedangkan semut akan tersaring. Bersihkan kembali media paralon dan letakkan kembali hingga menghasilkan kroto selanjutnya.
6. Budidaya Kroto Dengan Toples
Apabila di bagian atas kami menjelaskan ternak kroto dengan media paralon. Kali ini kita jelaskan dengan menggunakan media toples. Hal yang pertama dilakukan adalah buatlah media sarang untuk koloni semut agar mau bertelur. Dalam hal ini kami gunakan toples. Namun, toples tersebut di bagian bawahnya lubangi dengan diameter 5-7 cm. Setelah itu tutup kembali lubang tadi dengan lakban. Kedua adalah apabila sudah mendapatkan bibit semut rangrang maka masukkan saja sarang tersebut ke dalam toples lalu tutup dengan rapat. Pastikan dalam satu koloni tersebut terdapat jenis semut rangrang yang lengkap. Sebagaimana telah kami jelaskan diawal. Yakni dalam satu koloni terdapat ratu semut, prajurit, semut pejantan dan semut pekerja. Hal ini bertujuan agar semut dapat bertelur dengan sempurna.
Ketiga adalah dengan menyedaiakan nampak plastik yang datar dan isilah nampan tersebut dengan air. Berrtujuan untuk agars emut tidak kabur ataupun pindah lokasi. Tapi ingat nampan tersebut diisi dengan air hingga setengah dari tinggi nampan lalu letakkan batu di tengah permukaan nampan.

Keempat adalah letakkan bibit semur rangrang yang berada di dalam toples untuk kemudian ditempatkan diatas batu bata tadi dengan posisi terbalik. Yakni posisi yang berlubang berada di atas batu bata. Apabila posisi benar-benar tegak lakban dapat dilepas dan semut dengan bebas mencari makan. Berbeda halnya jika Anda beli bibit semut rangrang dari peternak atau pembudidaya. Karena umumnya penjual tersebut dalam satu toples sudah dilengkah semur rangrang yang terdiri dari berbagai anggota. Jadi Anda cukup meletakkan saja di atas batu bata yang tekah disediakan di langkah ketiga.

Cara Pemberian Makan Ternak Kroto Dengan Toples
Apabila cara ternak kroto telah benar maka Anda cukup melatakkan larutan gula ditambah sedikit madu kedalam gelas dan ditempatkan di samping toplea agar semut rangrang mudah menjangkaunya. Dalam kurun waktu 5-6 bulan kroto sudah siap untuk dipanen dengan 2 periode panen tiap bulannya. Dalam satu koloni semut rangrang bisa menghasilkan kroto seberat 100 gram. Anda cukup dengan mengumpulkan 10 toples kroto maka sudah bisa menghasilkan 1 kg kroto dan hitunglah berapa keuntungan yang didapat. Dengan per kilonya Rp. 250.000.

Jumat, 21 Juni 2019

Formula Bio-Mocaf Untuk Fermentasi Pembuatan Tepung Mocaf









Jual Formula Biomocaf
087731375234


Singkong adalah salah satu produk pertanian unggulan Indonesia. Singkong dapat  diolah menjadi aneka produk yang sangat bernilai ekonomis diantaranya diolah sebagai pakan ternak, tepung tapioka, gula cair, bioethanol, nata de cassava, dan berbagai aneka makanan camilan seperti keripik balado, thiwul, selondok, dan lain-lain. Saat ini, temuan terbaru produk olahan singkong adalah tepung mocaf yang memiliki karakteristik sebagai penggganti terigu.
Mocaf (Modified Cassava Flour) adalah produk olahan singkong menjadi tepung yang difermentasi sehingga memiliki tekstur yang baik, warna putih, dan aroma tidak berbau singkong.Tepung mocaf kini kian popular, karena tepung mocaf memiliki karakteristik yang bagus mampu menyubstitusi terigu.Saat ini kebutuhan tepung terigu nasional sangat tinggi, sedangkan pasokan masih harus didatangkan dari luar negeri, karena Indonesia tidak mampu memproduksi gandum yang merupakan bahan dasar terigu.
Beberapa kendala dalam industri tepung mocaf antara lain adalah; harga singkong yang seringkali fluktuatif dipengaruhi masa panen yang tidak kontinue.Beberapa daerah di Indonesia memang bisa produksi singkong secara kontinue sehingga harganya bisa stabil dan terjangkau untuk industri.Saat ini harga singkong agak naik seiring berkembangnya industri berbasis singkong seperti; tapioka, mocaf, bioetanol, sorbitol, gula cair, pakan ternak, industri makanan camilan, dan lain-lain.Berkembangnya industri berbasis singkong hendaknya ditopang pertanian singkong yang optimal. Saat ini para petani masih banyak yang enggan bertanam singkong karena dirasa panennya lama dan harganya murah dibandingkan komoditas yang lain. Dan untuk beberapa daerah tertentu pemasarannya dalam jumlah besar tidak mudah karena  belum ada industri pengolahannya. Jika masing-masing daerah membangun industri pengolahan singkong maka produksi singkong dapat ditingkatkan dan petani tidak kesulitan untuk memasarankannya.Agar petani mendapat produksi yang maksimal, maka sebaiknya menggunakan bibit singkong yang unggul dan teknik budidaya yang baik pula dengan pemupukan dan pengairan yang cukup. Seringkali petani singkong di Indonesia menganggap bahwasanya singkong adalah tanaman yang tahan banting sehingga tidak memerlukan perawatan yang intensif. Hal ini yang seringkali menyebabkan panen yang kurang maksimal dan kurang menguntungkan, jika petani memperhatikan hal ini tentu akan mendapatkan laba yang optimal. Petani dan produsen perlu membuat kesepakatan harga yang sama-sama menguntungkan, petani menjual singkong tidak terlalu tinggi, dan produsen tidak membeli dengan harga terlalu murah.
Bagi yang berminat untuk berwirausaha tepung mocaf, maka perlu mempelajari teknik produksi pembuatan tepung mocaf. Proses produksi tepung mocaf relatif mudah, sederhana,  dan tidak memerlukan teknologi yang tinggi. Sehingga, bagi para pemula yang ingin menerjuni bisnis ini tidak memerlukan proses belajar lama. Usaha produksi tepung mocaf juga dapat dimulai dari skala home industri dengan investasi yang tidak terlalu tinggi. Secara umum, alat yang dibutuhkan untuk memproduksi tepung mocaf adalah; alat pengupas dapat menggunakan pisau, mesin slicer/pemotong, mesin penepung, mesin ayakan, dan alat pengemas. Kita dapat memulai usaha ini hanya dapat bermodal mesin penepung, sedangkan alat yang lain dilakukan secara manual. Mesin pemotong dapat diganti dengan menggunakan pisau atau alat semi mekanis, mesin ayakan dapat diganti dengan menggunakan ayakan terbuat dari kain kelambu yang halus.Hal ini dilakukan jika memang kondisi keuangan kita sangat terbatas.Memang untuk memproduksi tepung mocaf dengan skala besar tentu membutuhkan infestasi yang besar.  
Prinsip pembuatan tepung mocaf adalah dengan memodifikasi sel singkong dengan cara fermentasi, sehingga menyebabkan perubahan karakteristik yang dihasilkan berupa naiknya viskositas (daya rekat), kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan solubility (kemampuan melarut) sehingga memiliki tekstur yang lebih baik dibandingkan dengan tepung tapioka atau tepung singkong biasa. Alur proses produksi tepung mocaf (modified cassava flour) adalah sebagai berikut:
1)      Sortasi Dan Penimbangan.
2)      Sebelum singkong diproses, disortasi terlebih dahulu untuk memisahkan singkong yang rusak dan tidak memenuhi standar mutu, kemudian setelah itu dilakukan penimbangan agar dapat diketahui berat kotor dan berat bersih sehingga dapat dianalisis total produk jadi dan dapat dihitung tingkat kegagalan.
3)      Pengupasan.
4)      Pengupasan kulit singkong dapat dengan menggunakan pisau. Singkong yang telah dikupas sebaiknya ditampung dalam bak atau ember yang berisi air sehingga tidak menyebabkan timbulnya warna kecoklatan dan sekaligus menghilangkan asam sianida (HCN).
5)      Pencucian
6)      Setelah dikupas, kemudian singkong dicuci dengan menggunakan air bersih. Hindari penggunaan air yang mengandung kaporit atau terkontaminasi bahan kimia. Penggunaan air yang mengandung kaporit akan dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri fermentasi terhambat.
7)      Slicing / chiping (pemotongan).
8)      Singkong yang telah dicuci bersih kemudian dipotong-potong tipis-tipis berbentu chip berukuran kurang lebih 0.2- 0.3 cm. Pemotongan bisa secara manual dengan menggunakan pisau atau dengan menggunakan mesin slicing.
9)      Fermentasi / Perendaman.
10)  Proses fermenasi chips singkong dilakukan dengan menggunakan drum plastik yang diisi air kemudian dilarutkan starter Bio-Mocaf. Perendaman chip singkong diupayakan sedemikian hingga seluruh chip singkong tertutup air. Proses perendaman dilakukan 30-48 jam. 
11)  Pencucian.
12)  Setelah proses fermentasi selesai, kemudian dilakukan pencucian kembali untuk menghilangkan sifat asam pada chips singkong hingga tidak berasa dan tidak berbau. lebih cepat kering.
13)  Pengeringan / Penjemuran.
14)  Setelah chips dicuci bersih, kemudian tiriskan dengan menggunakan penjemuran terbuat dari anyaman bambu/tampah, plat seng dengan ukuran bisa 120 cm x 60 cm, atau dapat dengan menggunakan terpal. Pengeringan bisa dilakukan dengan menggunakan energi matahari. Penjemuran dengan menggunakan terpal lebih praktis penanganannya jika terjadi hujan. Penjemuran dengan mengunakan nampan dari plat lebih cepat kering. Jika panas matahari normal maka penjemuran dapat dilakukan minimal 3 hari.
15)  Penepungan.
16)  Setelah chips singkong betul-betul kering hingga mencapai kadar air maksimal 13%, selanjutnya dapat dilakukan proses penggilingan dengan menggunakan mesin penepung.
17)  Pengayakan
18)  Pengayakan dilakukan untuk mengasilkan tepung mocaf yang lembut. Pengayakan dapat dilakukan secara manual menggunakan saringan atau dengan menggunakan mesin sehingga kapasitasnya lebih besar dan waktu yang digunakan lebih singkat dengan mesh 100-200.
19)  Pengemasan.
20)  Setelah menjadi produk tepung kemudian dikemasi sesuai ukuran yang kita kehendaki. Jenis kemasan sesuai dengan tujuan pasar, kemasan plastik umumnya digunakan untuk produk eceran, sedangkan kemasan karung umumnya pemasaran ke industri atau pedagang besar.





Effects of Bacillus amyloliquefaciens as a probiotic strain on growth performance, cecal microflora, and fecal noxious gas emissions of broiler chickens






Jual Culture Bacillus amyloliquifaciens
Telp. 087731375234


This experiment was conducted to investigate the effects of Bacillus amyloliquefaciens probiotic (BAP) as a direct-fed microbial on growth performance, cecal microflora, serum immunoglobulin levels, and fecal noxious gas emissions of broiler chickens. A total of 400 one-day-old broiler chicks (Ross 308) were randomly assigned to 1 of 5 treatment diets formulated to supply 0, 1, 5, 10, and 20 g/kg of BAP and were fed for 35 d. Each treatment had 8 replicate pens with 10 birds per replicate. On completion of the growth trial, fecal samples were collected, and ammonia (NH3) and hydrogen sulfide (H2S) emissions were measured. Increasing concentration of BAP had positive linear effect on the ADG of broilers (P < 0.05) throughout the experimental period, with the highest values being observed in broilers offered 20 g/kg of BAP. The ADFI increased linearly (P < 0.02) with the inclusion of BAP during the overall experimental period (d 0 to 35). Providing BAP had a negative linear effect on FCR from d 0 to 21 and d 0 to 35 (P < 0.01). Supplementation with BAP did not affect cecal Lactobacillus and Bacillus content, but exerted negative linear effect on cecal Escherichia coli (P < 0.05) with increasing the level of BAP in broiler diets. Additionally, BAP modified immune response of broilers by linearly increasing serum IgG and IgA (P < 0.01). Dietary BAP resulted in decreased fecal NH3 emissions at 0 (linear, P < 0.001), 3, 6, 12, 24, and 48 h of incubation (linear, P < 0.05; quadratic, P < 0.01). Supplementation of BAP exerted negative linear and quadratic effects on fecal emissions of H2S (P < 0.001) throughout the incubation period except at 48 h, and the optimum effect was found when BAP was provided at 5 g/kg of diet. Based on these results, Bacillus amyloliquefaciens could be suggested as a potential feed additive of broiler diets.

Issue Section:
INTRODUCTION
During the last few decades, livestock production has evolved considerably from largely integrated farming to intensive systems of rearing. Although intensified livestock production is economically effective, it has led to an increase in stress that animals are subjected to, which has resulted in decreased immune function and productivity, overuse or misuse of antibiotics to improve immunity and growth performance, and public complaints concerning odor emissions, and so on. According to the American Meat Institute (International Post, 2013), there was a 0.2% increase in meat and poultry production in 2011 compared with 2010, whereas antibiotics use increased by 2%, meaning that the average amount of antibiotics used to produce 1 kg of meat increased over that time span. The use of antibiotics has been further compounded by broiler diet formulations, which commonly contain high concentrations of trace minerals and may have deleterious effects on the bacteria needed for effective nutrient utilization (Hojberg et al., 2005) by the gastrointestinal tract (GIT). In consequence, nonutilized nutrients excreted through urine and feces that undergo anaerobic microbial decomposition produce odorous compounds such as volatile amines and sulfurs, phenols, indoles, and volatile fatty acids (Gilley et al., 2000). High concentrations of ammonia and sulfur-containing compounds result in poor performance in broilers (Deaton et al., 1984; Wang et al., 2011), histological changes in the respiratory system, increased susceptibility to disease, and subsequent mortality (Elliott and Collins, 1982; Kristensen and Wathes, 2000). Exposure to high levels of odorous compounds not only adversely affects the health and performance of animals, but can also affect the health of workers and cause environmental problems such as acidification and nitrification of rain (Ferket et al., 2002; Ushida et al., 2003). Accordingly, the Republic of Korea implemented a complete ban of antibiotic growth promoters in animal feed that went into effect in July 2011 (MIFAFF, 2010). Thus, it is necessary to identify new feed additives to ensure the safety of animal products.
Several experiments have reported the beneficial effects of direct-fed microbial (DFM) products provided to broilers on growth performance (Santaso et al., 1999; Mountzouris et al., 2007, 2010), nutrient digestibility (Li et al., 2008; Mountzouris et al., 2010), modulation of intestinal microflora (Koenen et al., 2004; Teo and Tan, 2007; Mountzouris et al., 2010), pathogen inhibition (Mallo et al., 2010; Mountzouris et al., 2010), immunomodulation and gut mucosal immunity (Koenen et al., 2004; Teo and Tan, 2007; Mountzouris et al., 2010), and reduction of ammonia from chicken manure (Endo and Nakano, 1999; Santaso et al., 1999). Bacillus are aerobic, endospore-forming bacteria that have recently shown tremendous promise as DFM candidates because of their survival through the digestive process, germination within the digestive tract, and excretion through fecal matter (Barbosa et al., 2005; Cartman et al., 2008; Shivaramaiah et al., 2011). Bacillus amyloliquefaciens is a potent Bacillus species that produces several extracellular enzymes including α-amylases, cellulase, metalloproteases, and proteases that enhance digestibility and absorption of nutrients in addition to overall immune function of the gut (Gould et al., 1975; Gracia et al., 2003; Lee et al., 2008). Additionally, the bacteriocins (subtilin and barnase) produced by B. amyloliquefaciens (Lisboa et al., 2006; Ulyanova et al., 2011) have bactericidal effects against pathogenic ammonia producing Clostridium perfringensEscherichia coli, and Yersinia. Ferket et al. (2002) found that fecal noxious gas emissions of nonruminants are related to nutrient utilization and the intestinal microflora ecosystem. Experiments with chickens have shown increased nutrient utilization, improved growth performance, increased antibody titers, and balanced cecal microflora in response to being fed a diet supplemented with B. amyloliquefaciens (An et al., 2008). Taken together, these findings indicate that dietary addition of B. amyloliquefaciens may positively improve growth performance and immunity and reduce fecal noxious gas emissions by improving nutrient utilization and intestinal microflora equivalence. Therefore, this study was conducted to assess the effects of supplementation of broiler diets with B. amyloliqufaciens probiotic (BAP) on growth performance, cecal microflora, serum immunoglobulins, and fecal noxious gas emissions from chickens.
MATERIALS AND METHODS
Experimental Birds, Design, and Diets
A total of 400 one-day-old male broiler chicks (Ross 308; initial BW 46.1 ± 0.10 g) obtained from a commercial hatchery were weighed and distributed randomly to 1 of 5 dietary treatments in a completely randomized design. Eight replicate pens were assigned to each of the 5 treatments with 10 birds per replicate pen. The pens of each treatment were distributed in such a way that they are located in the front, middle, and back of the house. The dietary treatments were 0, 1, 5, 10, and 20 g/kg of BAP. The probiotic strain used in this experiment was Bacillus amyloliquefaciens KB3, which was provided by the Jeonnam Biodiversity Foundation, Jeonnam, Republic of Korea.
Commercially available broiler diets were used as basal diet prepared with the same batch of ingredients for starter (0 to 21 d) and finisher (22 to 35 d) periods. The ME and CP content of the basal diet was according to the requirements of the Ross-308 rearing guidelines (Aviagen, 2007). The lysine content of the basal diet was somewhat lower (starter: 1.43 vs. 1.18, finisher 1.09 vs. 1.03), whereas the methionine content was higher (starter: 0.51 vs. 0.79, finisher 0.41 vs. 0.70) than the requirement according to Aviagen (2007). The ingredients, chemical composition, and vitamin and mineral content of the experimental basal diets are shown in Table 1. The probiotic product was supplied in powder form and mixed on a weight:weight ratio basis by replacing an equal amount of basal diet. Broilers were kept in a closed, ventilated, wire-floor caged broiler house (100 cm long × 80 cm wide × 40 cm high/cage) at a stoking density of 800 cm2/bird. The cages had a linear feeder in the front and a nipple drinker in the back to provide ad libitum feed intake and free access to water throughout the whole experiment. Temperature was maintained at 33°C for d 1 to 7, after which it was gradually reduced to 24°C at a rate of 3°C per week and then maintained at this temperature until the end of the experiment. The RH was maintained at around 50% throughout the experiment. Continuous lighting was provided throughout the experimental period. All experimental procedures used in this study were approved by the Animal Care and Welfare Committee of the National Institute of Animal Science, Rural Development Administration, Republic of Korea.
Ingredients and chemical composition of the basal diets
Item 
Starter (0–21 d) 
Finisher (22–35 d) 
Ingredient (%, as-fed basis) 


Corn grain 
57.37 
60.64 
Soybean meal 
26.80 
24.90 
Corn gluten 
5.00 
3.50 
Soybean oil 
2.20 
2.20 
Animal fats 
4.50 
5.00 
Salt 
0.25 
0.25 
Dicalcium phosphate 
2.14 
2.00 
Limestone 
0.92 
0.88 
Vitamin-mineral premix1 
0.30 
0.30 
Choline 
0.08 
0.07 
L-Lysine HCl (78%) 
0.24 
0.16 
DL-Methionine 
0.20 
0.10 
Calculated composition (% of DM unless otherwise specified) 


ME (kcal/kg) 
3,200 
3,200 
CP 
22.2 
20.7 
Crude fat 
4.00 
4.50 
Crude ash 
8.00 
8.20 
Crude fiber 
6.00 
6.10 
Ca 
0.80 
0.75 
Available phosphorus 
0.55 
0.52 
Lysine 
1.18 
1.03 
Methionine 
0.79 
0.70 
1Vitamin-mineral mixture provided the following nutrients per kilogram of diet: vitamin A, 15,000 IU; vitamin D3, 1,500 IU; vitamin E, 20.0 mg; vitamin K3, 0.70 mg; vitamin B12, 0.02 mg; niacin, 22.5 mg; thiamine, 5.0 mg; folic acid, 0.70 mg; pyridoxine, 1.3 mg; riboflavin, 5 mg; pantothenic acid, 25 mg; choline chloride, 175 mg; Mn, 60 mg; Zn, 45 mg; I, 1.25 mg; Se, 0.4 mg; Cu, 10.0 mg; Fe, 72 mg; Co, 2.5 mg (Bayer Korea Ltd., Dongjak-Ku, Seoul, Korea).
Growth Performance
The BW was recorded per pen on a weekly basis from the initial day to the final day of the experiment. In addition, feed consumption for each pen between weighing was determined by measuring feed residue on the same days as the birds were weighed. Feed conversion was calculated as feed per gain based on the weight of feed consumed divided by BW gain per pen. The gain, feed intake, and feed conversion were corrected for dead birds.
Collection and Analyses of Blood Samples
At termination of the feeding trial, 3 birds close to the mean BW were randomly selected from each pen for blood and cecal sample collection. Blood samples were collected (10 mL) from the wing veins of the selected birds into a 10-mL anticoagulant-free vacutainer tube (Greiner Bio-One GmbH, Kremsmunster, Austria). The samples were subsequently stored on ice during the period of collection and then immediately centrifuged to separate the serum (centrifugation for 15 min at 1,610 × g at 4°C). Next, the serum samples were carefully transferred to plastic vials and stored at −20°C until immunoglobulin analysis was performed. The concentrations of serum IgG, IgA, and IgM were assayed using appropriately diluted samples by a sandwich ELISA with chicken-specific IgG (Cat. No. E30–104), IgA (Cat. No. E30–103), and IgM (Cat. No. E10–101) ELISA quantitation kits (Bethyl Laboratories Inc., Montgomery, TX) according to the manufacturer’s instructions. Each experiment was run in duplicate and the results represent the means of triplicate experiments. The absorbance of each well at 450 nm was measured within 30 min using a microplate autoreader (Thermo Lab Systems, Helsinki, Finland). The concentrations of IgG, IgA, and IgM were determined using standard curves constructed from the respective immunoglobulin standards and the results were expressed as micrograms per milliliter of serum.
Collection and Measurement of Cecal Microflora
After blood collection, the selected chickens were exsanguinated by cutting the jugular vein, and the GIT was removed from the carcass. Next, 10-cm segments from the same area of both ceca were dissected and approximately 1 g of cecal content was aseptically collected into a 2-mL safe-lock Eppendorf tube (Thermo Fisher Scientific Inc., Seoul, South Korea) and immediately preserved at −40°C for later microbial analysis.
After thawing, 1 g of the cecal sample was serially diluted with 9 mL of 0.9% sterile saline (1:10 dilution) and thoroughly mixed. Viable counts of bacteria in the cecal samples were then conducted by plating serial 10-fold dilutions in duplicate into MacConkey agar plates, DeMan, Rogosa, Sharpe (MRS) agar plates, and Mannitol Egg Yolk Polymyxin (MYP) agar plates (Difco Laboratories, Becton, Dickinson and Company, Sparks, MD) to isolate the Escherichia coliLactobacillus spp., and Bacillusspp., respectively. The Lactobacillus MRS agar plates were then incubated for 48 h at 37°C under anaerobic conditions, whereas the Bacillus MYP agar plates and E. coliMacConkey agar plates were incubated for 24 at 37°C under aerobic conditions. Microbial colonies were immediately counted after removal from the incubator and expressed as log10 cfu/mL.
Collection of Fecal Sample and Gas Measurements
After finishing the growth trial, fecal samples (mixtures of feces and urine) were collected from the bottom tray of the wire-floor cages of 3 pens per treatment (located in the front, middle and back of the house) into plastic bags and stored immediately at −20°C until use. The total sampled manure from each pen was thawed and then homogenized, after which 500-g subsamples were placed in 2-L plastic boxes in triplicate to measure the NH3 and H2S emissions. Each plastic box was equipped with a cover containing a hole to allow insertion of a gas measuring tube that was sealed inside with adhesive plaster. The samples were allowed to ferment for a period of 3 h at room temperature (24 to 28°C), after which the gas concentration was measured using a Gastec (model AP-20) gas sampling pump (Gastec Corp., Kitagawa, Japan) and Gastec detector tube (No. 3M and 3LA for NH3and 4LT and 4L for H2S). The adhesive plaster was punctured and 100 mL of headspace air was collected from approximately 2.0 cm above the sample surface. After sampling, the tubes were again sealed with adhesive plaster and incubated at room temperature. Additional gas samples were collected at 6, 12, 24, and 48 h. The concentration of NH3 and H2S was expressed as milligrams per kilogram of excreta.
Statistical Analyses
The experiment was carried out as a completely randomized design with 5 treatments. Data were subjected to ANOVA using the PROC IML ORPOL function of the Statistical Analysis System employing polynomial analysis (SAS Institute Inc., 2003). Pens were used as the experimental unit for growth performance parameters [BW, ADG, ADFI, and feed conversion ratio (FCR)] and fecal noxious gas emissions, whereas an individual bird served as the experimental unit for immunoglobulin concentrations and cecal bacterial populations. Orthogonal contrasts were used to determine the linear and quadratic effects of the increasing levels of supplementation of BAP. Variability in the data was expressed as the SE, and a probability level of P ≤ 0.05 was considered statistically significant. Treatment means were computed with the LSMEANS option of the SAS program.
RESULTS
Growth Performance
The effects of dietary BAP supplementation on growth performance traits of broilers at different phases are shown in Table 2. From 0 to 21 d of age, dietary BAP had positive linear effect on ADG (P = 0.003) and negative linear effect on FCR (P < 0.01) of broilers; however, ADFI remained unaffected. From 22 to 35 d of age, dietary BAP exerted positive linear effect on ADG (P < 0.03), with the highest value being observed in response to supplementation with 20 g/kg, whereas ADFI (P > 0.05) and FCR (P = 0.25) were not affected by BAP supplementation. From 0 to 35 d of age, supplementation with BAP had positive linear effects on ADG (P = 0.0005) and ADFI (P < 0.02), and negative linear effect on FCR (P < 0.01) compared with the control, with the highest effect being observed in broilers offered 20 g/kg of BAP.


Posting Lama ►

BIO-MOCAF

BIO-MOCAF
Formula Pembuatan Tepung Mocaf

Acetobacter xylinum

Acetobacter xylinum
Bibit Nata De Coco
 

Copyright © 2012. AGROTEKNO LAB - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz