Selasa, 12 Februari 2019

Bacillus polymixa






Jual Culture Bacillus polymixa
087731375234


                Bacillus polymyxa merupakan bakteri yang menghasilkan antibiotik polimiksin B yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan infeksi bakteri gram negatif, sedangkan Bacillus subtilis adalah bakteri penghasil antibiotik untuk pengobatan infeksi bakteri gram positif. Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan bakteri gram negatif termasuk bakteri penyebab TBC dan Streptomyces rimosus penghasil antibiotik terasiklin untuk berbagai infeksi bakteri.
                Bakteri Bacillus polymyxa termasuk jenis bakteri yang menguntungkan di bidang kesehatan, bidang lingkungan dan pangan karena mengandung antibiotik dimana  antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri, baik kokus, basil, maupun spiril, dikatakan mempunyai spektrum luas. Sebaliknya, suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu, disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus, oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. Tetrasiklin efektif bagi kokus, basil dan jenis spiril tertentu, oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan, maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu.
Nama ilmiah : Paenibacillus polymyxa
Nama lain :
› "Aerobacillus polymyxa" (Prazmowski 1880) Donker 1926
› "Clostridium polymyxa" Prazmowski 1880
› "Granulobacter polymyxa" (Prazmowski 1880) Beijerinck 1893
› Aerobacillus polymyxa
› Bacillus polymyxa (Prazmowski 1880) Mace 1889 (Approved Lists 1980)
› Clostridium polymyxa
› Granulobacter polymyxa
› Paenibacillus polymyxa (Prazmowski 1880) Ash et al. 1994


Peranan Enzim Selulase Dalam Berbagai Bidang Industri






Jual Enzim Selulase
087731375234


Selulase adalah nama bagi semua enzim yang memutuskan ikatan glikosidik beta-1,4 di dalam selulosa, sedodekstrin, selobiosa, dan turunan selulosa lainnya. Selulase tidak dimiliki oleh manusia, karena itu manusia tidak dapat menguraikan selulosa. Tetapi hal ini dapat dilakukan oleh beberapa hewan seperti kambing, sapi, dan insekta seperti rayap karena dalam system pencernaannya mengandung bakteri dan protozoa yang menghasilkan enzim selulase yang akan menghidrolisis (mengurai) ikatan glikosidik beta-1,4. Reaksi yang ditimbulkan oleh selulase saat mengurai selulosa adalah hidrolisis, maka selulase diklasifikasikan ke dalam jenis enzim hidrolase.
Selulosa adalah senyawa organik yang paling melimpah di alam. Ada dua tipe dasar selulosa yang terdapat di alam, yaitu pektoselulosa, seperti rami yang mengandung 80% selulosa dan lignoselulosa yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Sebagai senyawa utama penyusun dinding sel tanaman, selulosa mencakup sekitar 30% dari keseluruhan material tumbuhan (90% dari kapas dan 50% dari kayu merupakan selulosa.  Selulase termasuk dalam jenis enzim yang dihasilkan oleh jamur, bakteri, dan protozoa yang mengkatalisis cellulolysis yang termasuk hidrilosis dari selulosa. Namun sellulase juga dapat di hasilkan oleh organisme lain seperti tumbuhan dan hewan. Selulosa adalah gabungan glukosa-glukosa yang diikat oleh ikatan yang dinamakan dengan ikatan glikosidik beta – 1, 4.
 Glukosa  adalah gula sederhana yang disebut dengan monosakarida, sedangkan selulosa adalah polisakarida karena tersusun atas beberapa gula sedehana. Polisakarida jenis selulosa ini adalah bahan struktural utama dari kayu dan tetumbuhan yang tidak larut dalam air. Keberadaan selulosa dibumi sangat melimpah, karena dalam skala global tumbuhan hampir 100 miliar ton selulosa pertahun.
 Enzim selulase bersifat tidak larut dalam air karena mirip dengan serat. Enzim selulase berfungsi untuk mengurai ikatan glikosisdik beta – 1, 4. Enzim selulase dapat mengurai sel dinding selulosa tanaman yang dimakan oleh hewan herbivora dan dapat mencerna serat.  Selulase digunakan untuk pengolahan makan seperti kopi. Ialu melakukan hidrolisis selulosa selama pengeringan biji. Selanjutnya, selulase secara luas digunakan dalam industri tekstil dan deterjen. Mereka juga telah digunakan dalam industri pulp dan kertas untuk berbagai keperluan, dan mereka bahkan digunakan dalam aplikasi farmasi.
Selulase digunakan dalam fermentasi biomassa ke biofuel, walaupun proses ini relatif eksperimental saat ini. Selulase digunakan sebagai pengobatan untuk Phytobezoars, suatu bentuk selulosa bezoar ditemukan di perut manusia. Selulosa merupakan homopolisakarida, dengan glukosa sebagai monomernya. Molekul selulosa berbentuk linier dan tak bercabang, dan terdiri dari 10.000-15.000 unit D-glukosa (Lehninger, 2008).
 Selulosa adalah polisakarida linear dari residu glukosa yang dihubungkan dengan hubungan ß- 1, 4. Seperti kitin tidak cross-linked. Selulosa kristal asli tidak larut dan terjadi sebagai serat dari hidrogen padat, terikat, rantai anhydroglucose 15 samapi 10.000 unit glukosa. Kepadatan dan kompleksitasnya membuatnya sangat tahan terhadap hidrolisis tanpa kimia pendahuluan atau degradasi mekainik atau bengkak
Tiga jenis umum enzim membentuk enzim selulase yang komplesks. Seluruh obligasi Endocellulase internal untuk mengganggu struktur kristal selulosa dan mengekspos rantai polisakarida selulase individu. Excocellulase memotong 2-4 unit dari ujung-ujung rantai terkena yang diproduksi oleh endocellulase, mengakibatkan tetrasakarida atau disakarida seperti selobiosa. Selobiase atau hydrolyses betaglukosidase produk endocellulase menjadi monosakarida individu. Dalam jenis diatas ada juga jenis progesif dan non progesif. Selulase progesif akan terus berinteraksi dengan untaian polysacchaide tunggal, selulase non- progesif akan berinteraksi sekali kemudian melepaskandiri dan terlibat lagi untaian polysacchaide.
Mikroba penghasil selulase umumnya merupakan pengurai karbohidrat dan tidak dapat memanfaatkan protein atau lipid sebagai sumber energi. Mikroorganisme ini adalah Trichoderma viride, yang akhirnya diberi nama Trichoderma reesei pada tahun 1977 Mikroba penghasil selulase terutama bakteri Cellulomonas dan Cytophaga serta kebanyakan fungi dapat mengutilisasi berbagai jenis karbohidrat lainnya selain selulosa, sedangkan spesies mikroba selulolitik anaerobik terbatas pada selulosa dan/atau produk hidrolisisnya.  Tidak semua mikroorganisme dapat mengutilisasi selulosa sebagai sumber energi yang menghasilkan kompleks enzim selulase yang lengkap. Hanya beberapa strain yang dapat menghasilkan kompleks enzim selulase yang terdiri dari tiga komponenutama yaitu endo-β-glukanase, ekso-β-glukanase, dan β-glukosidase.  T. reesei merupakan salah satunya dengan kemampuan menghasilkan enzim selulase dalam jumlah besar. Mikroba yang digunakan secara komersial untuk produksi enzim selulase umumnya terbatas pada T. reesei, H. insolens, A. niger, Thermomonospora fusca, dan Bacillus sp. (Sukumaran dkk, 2005).  Keuntungan penggunaan T. reesei adalah enzim selulase yang dihasilkan telah lengkap dengan semua komponen yang diperlukan untuk menghidrolisis selulosa dan perolehan protein selulase yang tinggi dapat dicapai.
 Enzim Selulase digunakan untuk : Melembutkan sayur-sayuran dengan mencernakan sebagian selulosa sayur itu. Mengeluarkan kulit dari biji seperti gandum. Mengasingkan agar-agar dari rumpai laut dengan menguraikan dinding sel daun rumpai dan membebaskan agar-agar yang terkandung dalamnya. Beberapa jenis industri yang memanfaatkan enzim selulase di antaranya industri tekstil, makanan, deterjen, dan kertas. Menipisnya cadangan bahan bakar fosil yang dapat ditambang dengan teknologi masa kini mendorong pemanfaatan enzim selulase untuk biokonversi bahan lignoselulosa menjadi sumber energi. Berikut dijabarkan mengenai industri dengan enzim Selulase :


 1).Industri tekstil
 Selulase merupakan enzim yang paling sukses digunakan dalam pemrosesan tekstil basah, terutama bagian proses akhir tekstil berbasis selulosa, dengan tujuan meningkatkan kualitas. • Selulase umumnya digunakan untuk biostoning bahan jeans dan biopolishing kapas dan pabrik selulosa lainnya.
 2). Industri deterjen
Dibandingkan dengan enzim hidrolase lainnya di dalam deterjen, selulase tergolong unik. Jika enzim hidrolase lain seperti amilase dan lipase umumnya menyerang substrat yang terdapat pada kotoran atau noda, enzim selulase menghidrolisis selulosa pada kapas atau paduannya untuk memberi keuntungan dalam pencucian dan perawatan bahan.
 3). Industri makanan dan minuman
 Produksi jus buah dan sayur memerlukan pengembangan metode ekstraksi, klarifikasi, dan stabilisasi. Selulase memiliki aplikasi penting bersama-sama dengan xilanase dan pektinase yang digunakan dalam ekstraksi dan klarifikasi jus buah dan sayuran untuk meningkatkan perolehan jus. Penggunaan enzim tersebut meningkatkan stabilitas dan tekstur cairan dan mengurangi viskositas sari buah tropis seperti mangga, pepaya, prem, dan pir.  Tekstur, rasa, dan aroma dari buah dan sayur dapat ditingkatkan dengan mengurangi rasa pahit berlebihdengan infusi enzim pektinase dan β- glukosidase.
 4). Industri kertas dan pulp
Proses pulping mekanik dengan menggunakan selulase dapat menghemat energi 20-40% selama refining dan meningkatkan kekuatan lembaran.  Endoglukanase juga dapat mengurangi viskositas pulp dengan menurunkan derajat hidrolisis.  Selulase sendiri atau campurannya dengan xilanase dapat digunakan untuk proses deinking berbagai jenis limbah kertas.  Keuntungan penggunaan enzim untuk proses deinking adalah mengurangi penggunaan alkali, meningkatkan kecerahan fiber, mempertahankan kekuatan kertas, dan mengurangi partikel-partikel halus dalam pulp. Akan tetapi penggunaan enzim untuk proses deinking tidak boleh berlebihan karena dapat mengurangi ikatan antarfiber (Kuhad dkk, 2011).
5). Biofuel
 Bahan lignoselulosa (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) sangat berlimpah sehingga berpotensi besar menjadi sumber bioenergi yang murah.  Mikroorganisme dengan sistem selulase yang berpotensi untuk mengubah biomassa menjadi alkohol secara langsung telah ditemukan. Akan tetapi, proses produksi komersial masih memerlukan biaya tinggi sehingga tidak dapat berkompetisi dengan produk dari bahan baku lain.  Beberapa faktor dalam proses mengurangi produktivitas biofuel di antaranya inhibisi produk terhadap enzim selulase, deaktivasi termal, ikatan nonspesifik pada lignin, dan adsorpsi irreversibel enzim pada substrat yang heterogen (Kuhad dkk, 2011).  Saat ini, proses yang mungkin dilakukan adalah produksi bioetanol dari bahan lignoselulosa secara multitahap
 Berbagai aplikasi dari enzim selulase menjadikannya sangat potensial untuk diproduksi,terutama di Indonesia. Pengembangan terbaruaplikasi selulase adalah pembuatan biofuel dengan bahan baku selulosa. Indonesia merupakan negara pertanian, dengan produksi padi yang cukup besar. Menurut angka ramalan dari data BPS tahun 2011, luas lahan pertanian padi Indonesia mencapai 13,26 juta hektar dengan produksi padi rata-rata 5 ton/hektar.  Menurut BadanLitbang Departemen Pertanian, tiap hektar sawah dapat menghasilkan 12-15 ton jeramisegar untuk sekali panen. Hal ini menunjukkan betapa besarnya limbah pertanianIndonesia jika tidak dimanfaatkan.
Jerami padi tersebut umumnya dibakar untuk dijadikan pupuk dan sebagian sebagai pakan ternak. Mengingat kandungan selulosa yang cukup tinggi dalam jerami tersebut yaitu sekitar 30% (Lehninger, 2008), maka bahan tersebut sangat potensial untuk menghasilkan enzim selulase. Di samping jerami padi, Indonesia juga memiliki bahan baku potensial lainnya untuk produksi enzim selulase, seperti tandan kosong kelapa sawit, tanaman nonpangan dengan kandungan lignoselulosa tinggi seperti jarak pagar (Jatropha curcas), mabai (Pongamia pinnata), nyamplung (Calophyllum inophyllum), dan tanaman berkayu tumbuh cepat seperti akasia (Acacia sp.), cemara (Casuarina equisetifolia), kayu putih (Eucalyptus sp.) dan tanaman lainnya (Soerawidjaja, 2009). Terjadinya krisis energi global yang mendorong pemanfaatan enzim selulase untuk menghasilkan biofuel. Pemanfaatan bahan baku yang mengandung lignoselulosa untuk menghasilkan enzim selulase dapat diintegrasikan dengan proses produksi bioetanol dari bahan tersebut. Hal ini dapat mengurangi biaya produksi di samping mengatasi kebutuhan akan sumber energi alternatif.

Rabu, 30 Januari 2019

Membuat Nata Dari Limbah Cair Industri Tempe






Jual Bakteri Acetobacter xylinum
087731375234

Limbah cair produk olahan kedelai difermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum sehingga dihasilkan produk nata de soya. Pemanfaatan air limbah industri tahu-tempe sebagai produk pangan memberikan manfaat yang besar bagi pengusaha industri tahu-tempe, baik nilai ekonomis maupun manfaat dalam upaya penanganan limbah. Pengolahan limbah cair tahu-tempe menjadi nata de soya merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pencemaran. Oleh karena itu, pengembangan usaha nata de soya perlu digalakan guna mengatasi pencemaran lingkungan di wilayah pemukiman sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Limbah cair industri tahu dan tempe mengandung protein dan karbohidrat yang cukup tinggi, kandungan protein dan karbohidrat dalam limbah cair tahu dan tempe tersebut dapat menjadi media hidup yang sangat baik bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini mengubah karbohidrat dan protein dalam limbah cair tahu-tempe menjadi serat selulosa dengan tekstur yang kenyal. Limbah air tahu (whey tahu) dan limbah cair tempe selain mengandung protein juga mengandung vitamin B terlarut dalam air, lestin dan oligosakarida. Berdasarkan kandungan unsur kimiawinya.
Limbah cair tahu-tempe menjadi salah satu aliterernatif bahan baku untuk pembuatan produk nata. Nata berbahan baku limbah kedelai memiliki karakteristik produk yang secara kenampakan sedikit kekuningan, cita rasa yang khas kedelai, kenyal namun lebih mudah putus dibandingkan dengan nata de coco lebih ulet, dan kandungan seratnya cukup tinggi.

Nata de soya memiliki tekstur yang cukup baik, tidak kalah dengan nata de coco. Kadar seratnya yang cukup tinggi dan memiliki cita rasa yang nikmat sebagai bahan baku minuman instan sehingga nata de soya mampu bersaing dengan nata de coco. Sebagaimana kita ketahui bahwa pasar nata de coco sebagai produk pangan yaitu minuman kemasan dan aneka produk olahan lainnya sangat tinggi baik pasar domestik maupun pasar luar negeri. Permintaan bahan nata oleh pabrik minuman kemasan sangat tinggi per hari mencapai ratusan ton bahan mentah nata berupa lembaran atau potongan. Kebutuhan produk nata yang sangat tinggi tersebut, menjadi peluang bisnis bagi para petani nata untuk bermitra dengan perusahaan besar yang ada di tanah air. Selain sebagai produk pangan, di negara maju seperti Jepang, saat ini nata telah dikembangkan sebagai produk non-pangan yaitu bahan baku elektronik dan komposit baja ringan.

Melihat potensinya yang sangat besar tersebut Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengolah aneka limbah pangan menjadi produk nata. Saat ini, di pasaran sudah familier produk nata dari bahan air kelapa (nata de coco), limbah cair olahan kedelai (nata de soya), umbi singkong atau limbah cair pengolahan industri singkong (nata de cassava). Masing-masing produk nata dari bahan baku baku yang berbeda tersebut memiliki aroma khas, tekstur dan tampilan yang sedikit berbeda. Namun, secara umumnya memiliki prospek pasar yang sama besar, meskipun saat ini produk nata de coco lebih familier dan permintaanya paling tinggi.


Limbah cair industri tahu-tempe yang telah didiamkan kurang lebih 2-3 hari (agar pH turun 3-4 sehingga asam), disaring dengan kain kasa agar kotoran-kotoran dan partikel kasar dapat dipisahkan, kemudian direbus dengan panci dengan tungku berbahan bakar kayu, setelah mendidih ditambahkan ZA 80 gram, gula pasir 100 gram, asam cuka 120 ml untuk media 50 liter limbah cair tahu atau tempe, diaduk-aduk kurang lebih 10-15 menit kemudian dituangkan kedalam nampan yang sudah disiapkan dengan penutup koran yang telah diikat dengan karet ban. Susun nampan yang telah diisi media larutan tersebut pada rak. Nampan dapat disusun bertingkat 5-10 nampan dengan bersilangan. Setalah dingin kurang lebih 5-7 jam, media larutan dalam nampan tersebut diinokulasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylnum kurang lebih 10% dari media larutan dalam nampan. Proses fermentasi akan berlangsung 8 – 10 hari. Lakukan pemanenan. Tampung nata de soya hasil panen dalam drum plastik yang diisi dengan air. Penyimpanan akan dapat bertahan lama apabila selalu diganti dengan air.

Neurospora sitophila





Jual culture Neurospora sitophila
087731375234

Neurospora sitophila  adalah merupakan jenis mikroba berupa fungi/jamur yang sering digunakan dalam pembuatan oncom. Neurospora sitophila  merupakan salah satu spesies dari genus Neurospora yang memiliki spora berbentuk seperti urat saraf berloreng-loreng. Jamur ini sering terdapat pada produk-produk bakeri dan  menyebabkan kerusakan sehingga biasanya disebut bakery mold atau red bread-mold. Dalam proses fermentasi Neurospora sitophila berkembang biak dan menjadikan makanan menjadi berwarna kuning-kemerahan. Dua spesies lain dari Neurospora sitophila adalah Neurospora crassa dan Neurospora tetrasperma. Nama Neurospora berasal dari kata neuron (= sel saraf), karena guratan-guratan pada sporanya menyerupai bentuk akson. Neurospora sitophila termasuk dalam kelompok kapang (jamur berbentuk filamen).  Sebelum diketahui perkembangbiakannya secara seksual, Neurospora sitophila masuk ke dalam kelompok Deuteromycota, namun setelah diketahui fase seksualnya atau fase teleomorph-nya, yaitu dengan pembentukan askus, maka Neurospora sitophila digolongankan ke dalam Ascomycota
Neurospora sithophila sebelumnya dinamakan Monilia sithophila. Hal ini disebabkan oleh belum diketahuinya alat perkembangbiakan dari Neurospora sithophila. Sebelum diketahui alat perkembangbiakannya, jamur ini tergolong kelas Deuteromycetes. Nama ilmiahnya adalah Monilia sitophila (monile = manik-manik kalung, sitos = makanan, philos = menyukai). Setelah diketahui alat perkembangbiakannya, maka kapang ini digolongkan ke dalam kelas Ascomycetes lalu nama spesies ini diganti menjadi Neurospora sitophila. Hifa  Neurospora sitophila yang membentuk sejumlah miselium dapat dikenali dengan mudah dari sejumlah massa berwarna pink dan konidia oval yang terdapat pada rantai di conidiophores yang bercabang. Jamur ini dapat menggandakan dirinya secara tidak terbatas dengan cara aseksual.
Neurospora, seperti kebanyakan anggota Sordariaceae lainnya, adalah organisme yang pertumbuhannya sangat cepat tetapi askosporanya membutuhkan perlakuan khusus untuk tumbuh sebagaimana dilakukan pada Sordariaceae lainnya. Sel hifanya memiliki inti banyak (multinucleate). Miseliumnya berpigmen dengan jumlah pigmen bervariasi tergantung substratumnya. Neurospora sitophila dan Neurospora crassa bersifat octosporous, hermaphrodit dan heterothallic. Unsur betinanya diwakili oleh protoperithecia, dimana setiap multinucleate askogonium ditempelkan. Askogonia menghasilkan cabang hifa panjang yang berfungsi sebagai trichogynes. Antheridia tidak dihasilkan. Unsur jantan diwakili oleh mikrokonidia yang diproduksi dalam rantai di microconidiophores; sejenis konidia, yang juga dapat menyalurkan nuclei ke receptive trichogynes. Dalam spesies ini, ditemukan bahwa peran organ seks jantan tidak terlalu besar dan fungsi seksual dikerjakan oleh bagian khusus dari thallus.

Zymomonas mobilis





Jual Culture Bakteri Zymomonas mobilis
Telp. 087731375234


Zymomonas mobilis adalah mikroba yang tergolong domain Bacteria, genus Zymomonas, specise Zymomonas mobilis. Zimomonas mobilis merupakab bakteri yang bersifat gram negatif, fakultatif anerob, tidak menghasilkan spora, berbentuk batang. bakteri ini mampu menghasilkan bioetanol. bakteri ini diisolasi dari minuman berakohol. bakteri ini tumbuh optimum pada suhu 25 - 30 C. Beberapa referensi menyebutkan bahwa bakteri Zymomonas mobilis menghasilkan bioetanol yang lebih tinggi dibandingkan dengan Saccharamyces cerevisiae.

Teknologi Pembuatan Bioetanol





Jual Enzim Alfa Amylase, Dan Gluco Amylase
087731375234

Bioetanol adalah merupakan etanol (etil alkohol) yang proses produksinya menggunakan bahan baku alami dan proses biologis. Sedangkan etanol sintetik diperoleh dari sintesis kimiawi senyawa hidrokarbon. Etanol yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan memiliki struktur kimia yang persis sama dengan etanol yang ditemukan pada minuman keras. Etanol yang digunakan untuk bahan bakar disebut dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) dengan tingkat kemurnian 99.5%.
Rumus molekul etanol adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O atau rumus bangunnya CH3-CH2-OH. (Bio)Etanol merupakan bagian dari kelompok metil (CH3-) yang terangkai pada kelompok metilen (-CH2-) dan terangkai dengan kelompok hidroksil (-OH). Secara umum akronim dari (Bio)Etanol adalah EtOH (Ethyl-(OH)). (Bio)Etanol tidak berwarna dan tidak berasa tapi memilki bau yang khas. Bahan ini dapat memabukkan jika diminum. Karena sifatnya yang tidak beracun bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman.
Saat ini (Bio)Etanol dipakai secara luas di Brazil dan Amerika Serikat. Semua kendaraan bermotor di Brazil, saat ini menggunakan bahan bakar yang mengandung paling sedikit kadar ethanol sebesar 20 %. Pertengahan 1980, lebih dari 90 % dari mobil baru, dirancang untuk memakai (Bio)Etanol murni. Di Amerika Serikat, lebih dari 1 trilyun mil telah ditempuh oleh kendaraan bermotor yang menggunakan BBM dengan kandungan (Bio)Etanol sebesar 10 % dan kendaraan FFV (Flexible Fuel Vehicle) yang menggunakan BBM dengan kandungan 85 % (Bio)Etanol. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar, sebenarnya telah lama dikenal. Seperti telah disebutkan diatas bahwa pada tahun 1880-an Henry Ford membuat mobil quadrycycle dan sejak tahun 1908 mobil Ford model T telah dapat menggunakan (Bio)etanol sebagai bahan bakarnya. Namun penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati kurang ditanggapi pada waktu tersebut, karena keberadaan bahan bakar minyak yang murah dan melimpah. Saat ini pasokan bahan bakar minyak semakin menyusut ditambah lagi dengan harga minyak dunia yang melambung membuat (Bio)Etanol semakin diperhitungkan.
(Bio)Etanol dapat digunakan pada kendaraan bermotor, tanpa mengubah mekanisme kerja mesin jika dicampur dengan bensin dengan kadar (Bio)Etanol lebih dari 99,5%. Perbandingan (Bio)Etanol pada umumnya di Indonesia baru penambahan 10% dari total bahan bakar. Pencampuran (Bio)Etanol absolut sebanyak 10 % dengan bensin (90%), sering disebut Gasohol E-10. Gasohol singkatan dari gasoline (bensin) dan (Bio)Etanol. (Bio)Etanol absolut memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan Premium hanya 87-88. Gasohol E-10 secara proporsional memiliki ON 92 atau setara Pertamax. Pada komposisi ini bioetanol dikenal sebagai octan enhancer (aditif) yang paling ramah lingkungan dan di negara-negara maju telah menggeser penggunaan Tetra Ethyl Lead (TEL) maupun Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE).
Bahan baku yang digunakan untuk produksi bioetanol dapat menggunakan glukosa. Gula (glukosa) merupakan bentuk bahan baku yang paling sederhana dengan rumus kimia C6H12O6 , berbeda dengan pengertian gula sehari-hari yang mengandung sukrosa, laktosa dan fruktosa. Gula dapat diperoleh dari tebu (sugar cane) melalui hasil sampingan produksinya berupa tetes (molases). Sebagai bahan baku bioetanol, glukosa dapat langsung digunakan dalam proses pembuatan bioetanol.
Glukosa dapat dihasilkan dari bahan yang mengandung pati tinggi seperti jagung,  singkong, sagu dan umbi-umbian lainnya yang mengandung karbohidrat. Rumus kimia dari pati adalah (C6H10O5)n dengan jumlah n antara 40 – 3.000. Sebagai bahan baku bioetanol, pati membutuhkan proses untuk memecah ikatan kimianya menjadi glukosa. untuk memecah pati menjadi glukosa digunakan enzim alfa amylase dan gluco amylase. Enzim alfa amylase berperan untuk proses likuifikasi yaitu memecah pati menjadi dekstrin, sedangkan gluco amylase berfungsi memecah dekstrin menjadi glukosa (sakarifikasi) yang memiliki rasa manis. Penggunaan bahan pati sebagai bahan baku bioetanol secara umum akan bersaing dengan cadangan pangan bagi manusia, yang pada akhirnya akan meningkatkan harga bahan pangan.
Bahan baku pembuatan bioetanol juga bisa dengan memanfaatkan biomasa berasal dari selulosa. Selulosa merupakan polisakarida dengan rumus kimia (C6H10O5)n, dengan jumlah n ribuan hingga lebih dari puluhan ribu, yang membentuk dinding tanaman dan kayu. Selulosa merupakan senyawa organik yang paling banyak jumlahnya di muka bumi. Sekitar 1/3 komposisi tanaman adalah selulosa yang tidak tercerna oleh manusia. Karena tidak bersaing dengan bahan pangan, maka selulosa diperkirakan akan mendominasi bahan baku bioetanol di masa mendatang. Sebagai bahan baku bioetanol, selulosa membutuhkan pengolahan awal yang lebih intensif dibandingkan dengan bahan baku lain. Bahan mengandung selolase diantaranya jerami padi, kulit kacang, tongkol jagung, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut ketersediaannya cukup melimpah yang masih belum dimanfaatkan secara baik untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi. Bahan tersebu sebelum diproses sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu, kemudian digiling menjadi tepung.
Untuk melakukan proses hydrolysis (merubah struktur selulosa menjadi glukosa) dapat ditempuh menggunakan penambahan asam yang dilarutkan pada suhu dan tekanan tinggi. Proses tersebut membutuhkan energi yang cukup besar sehingga net energy gain yang dihasilkan menurun. Selain itu kondisi yang asam akan menggangu proses fermentasi lanjutan, sehingga dibutuhkan proses perantara untuk menetralkan keasaman. Selain cara tersebut, juga dapat dilakukan dengan menggunakan enzim celulose, melalui proses pemanasan maka bahan selulosa tersebut dengan penambahan enzim celelose dan air, maka dihasilkan glukosa yang selanjutnya difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae.
Bahan baku harus melalui proses pre-treatment dengan tujuan untuk meningkatkan kandungan glukosa bahan semaksimal mungkin sebelum memasuki tahap fermentasi. Kandungan glukosa ditingkatkan dengan merubah bentuk gula kompleks (polisakarida) menjadi gula sederhana. Proses pre-treatment sangat bergantung dari tipe bahan baku yang digunakan. Proses produksi bioetanol dilakukan melalui proses fermentasi yang menghasilkan alkohol dengan kadar rendah. Proses fermentasi merubah bahan baku glukosa menjadi alkohol dan residu karbon dioksida. Pada proses tersebut dibutuhkan bantuan ragi saccharomyces cerevisae dengan persamaan kimia sebagai berikut:
C6H12O6 → 2 CH3CH2OH + 2 CO2
Proses fermentasi menghasilkan alkohol dengan kadar maksimal hanya 7 – 9% ( 15% jika menggunakan strain ragi yang paling tahan alkohol). Untuk meningkatkan kadar etanol hingga mencapai Fuel Grade Ethanol (FGE) 99.5% dibutuhkan proses penyulingan (distillation) dan dehidrasi (dehydration). Proses penyulingan akan menghasilkan etanol dengan kadar maksimum 95.6% dan tidak bisa ditingkatkan lagi karena sifat azeotrope larutan etanol-air.
Untuk meningkatkan konsentrasi etanol hingga mencapai FGE dilakukan proses dehidrasi dengan beberapa metode antara lain:
1. Azeotropic Distillation
Penambahan benzene pada larutan alkohol-air untuk menghilangkan sifat larutan azeotrope. Dibutuhkan proses tambahan untuk memisahkan benzene dari larutan alkohol.
2. Molecular Sieve
Penambahan zat adsorbent untuk memerangkap air dari larutan etanol-air. Zat adsorbent yang jamak digunakan antara lain zeolite. Dalam proses yang lebih sederhana dapat digunakan kapur gamping (CaO) bubuk yang dilarutkan dalam larutan etanol-air.
3. Membrane Pervaporation
Proses pervaporation menggunakan membran porous atau non-porous untuk memfilter fase gas dari larutan azeotrope alkohol-air. Proses ini diklaim mengonsumsi energi relatif rendah karena memanfaatkan tekanan dan suhu rendah.

Rabu, 24 Oktober 2018

Teknologi Pembuatan Kecap Kedele








Jual Ragi Kecap (Aspergillus sojae, Aspergillus oryzae)
087731375234


Kecap merupakan bumbu masakan penambah cita rasa yang sangat digemari banyak kalangan.  Kecap dapat diolah dari berbagai macam jenis bahan, antara lain adalah; kedelai hitam, kedelai kuning, kacang benguk, air kelapa dan lain-lain. Namun, kecap dengan bahan baku kedelai hitam memiliki cita rasa yang lebih nikmat dan tampilan lebih menarik. Proses pembuatan kecap melibatkan pemanfaatan bioteknologi, dengan memanfaatkan kapang Aspergillus oryzae, Aspergillus sojae, Aspergillus wenti, Rhizophus olygosporus. Proses pembuatan kecap cukup lama, proses fermentasi dengan kapan kurang lebih berlangsung 2-3 hari, sedangkan proses fermentasi selanjutnya dalam larutan garam 25% kurang lebih 3-6 bulanan. Proses fermentasi yang cukup lama bertujuan untuk menghasilkan cita rasa yang nikmat dan aroma yang lebih menarik.


Berikuti ini adalah Proses pembuatan kecap adala sebagai berikut:
sortasi kedelai
perendaman kedelai 3-5 jam
perebusan atau pengukusana
penirisan
inokulasi dengan Kapang
fermentasi 2-3 hari
Fermentasi dengan larutan garam 25% selama 3 bulanan
Pemasakan dengan bumbu-bumbu yang dihaluskan (garam, bawang putih, lengkuas, salam, sereh, dll) dan tambahkan gula merah dengan kualitas baik, diaduk hingga mengental.
penyaringan dan pengemasan.

Demikian proses pembuatan kecap manis secara sederhana, semoga bermanfaat.

Posting Lama ►

BIO-MOCAF

BIO-MOCAF
Formula Pembuatan Tepung Mocaf

Acetobacter xylinum

Acetobacter xylinum
Bibit Nata De Coco
 

Copyright © 2012. AGROTEKNO LAB - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz