Rabu, 16 April 2014

Teknologi Bioflock Pada Budidaya Udang





085741862879
Jual Mikrobia Untuk Membuat Bioflock

Udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki prospek sangat menjanjikan karena memiliki pasar yang luas baik domestik dan luar negeri. Baik pasar domestik maupun luar negeri permintaannya terus meningkat, dan masih luasnya pasar ekspor yang belum digarap oleh pengusaha nasional. Jepang merupakan negara tujuan ekspor udang nasional terbesar kedua setelah AS, disusul Uni Eropa. Potensi pasar yang masih luas tersebut, merupakan tantangan sekaligus peluang bagi pengusaha udang nasional untuk memanfaatkannya. Oleh karena itu, penting sekali membenahi sektor bisnis budidaya udang dengan melibatkan pemerintah, pengusaha dan pemasar. Tanpa adanya kerjasama yang sinergis, maka kita tidak akan mampu berproduksi maksimal dan akan menyebabkan kehilangan peluang yang menggiurkan tersebut.
Indonesia sangat berpeluang untuk mengembangkan komoditas udang, karena memiliki wilayah perairan yang luas baik pantai maupun perairan darat, sumber pakan yang cukup, dan tenaga kerja yang melimpah. Berbagai jenis udang dapat tumbuh dengan baik dan hasilnya optimal di perairan Indonesia baik di perairan dengan kadar garam tinggi atau rendah diantaranya udang galah, vannami, lobster, dan lain-lain. Di daerah pantai dapat dibuat tambak-tambak, sedangkan di perairan daratan dibuat kolam-kolam dengan dasar tanah. Oleh karena itu udang dapat dibudidayakan secara mudah oleh para pembudidaya. Selain itu, perawatannya juga relatif mudah.
Udang merupakan hewan omnivora penghuni dasar yang jenis makanannya berupa plankton, cacing, siput, kerang, ikan, moluska, biji-bijian serta tumbuh-tumbuhan. Jenis plankton yang biasa dimakan diantaranya adalah Chlorophyta, Euglenophyta, Xantophyta, Chrysophyta, Cladocera, Copepoda, Protozoa, Dinoflagellata dan Diatom. Sebagian jenis serangga dan organisme tak dikenal beserta butiran pasir dan biji-bijian juga ditemukan. Organisme yang tidak dikenal yang mungkin merupakan bagian dari materi detritus juga banyak ditemukan. Udang merupakan pemakan hewan kecil atau bentik. Chlorophyta dan Baciolaryphyta (diatom) menjadi makanan paling dominan dari udang. Ketersediaan pakan udang dipengaruhi ketersediaan pakan di habitatnya. Udang bisa menyesuaikan diri untuk kelangsungan hidupnya dengan cara memakan baik hewan maupun tumbuhan yang ada di sekitar. Udang mengambil makanannya dari dasar habitatnya atau dari fauna terkait yang terendam vegetasi pantai di badan air. Udang memiliki pergerakan yang terbatas dalam mencari makanan dan mempunyai sifat dapat menyesuaikan diri terhadap makanan yang tersedia lingkungannya. Udang bersifat nocturnal artinya aktif mencari makan pada malam hari atau apabila intensitas cahaya berkurang. Sedangkan pada siang hari yang cerah lebih banyak pasif,  berbenam diri dalam lumpur, di balik batu, karena udang-udang jenis ini tidak menyukai sinar matahari.
Beberapa contoh makanan udang yang  terdiri dari fitoplankton, zooplankton, hewan bentik  menunjukkan korelasi dengan musim yang sedang berlangsung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis makanan ini tergantung pada musimnya. Pada musim hujan makanan yang dominannya adalah fitoplankton. Begitu sebaliknya, dimana zooplankton mendominasi saat musim kemarau. Kondisi musim ternyata menjadi bagian penting juga yang perlu diketahui yang mempengaruhi kebiasan makan dari udang. Pada musim hujan,  makanannya terkait dengan perubahan mendadak kondisi ekologi lingkungannya. Saat  musim hujan bila diamati isi makanan perut udang lebih lengkap dibandingkan musim kemarau yang isi perutnya kosong. Pada musim hujan intensitas makan udang lebih tinggi. Jenis makanan yang banyak ditemukan yaitu tumbuhan, tetapi pada saat air perairan surut terendah pakan utamanya bergeser ke jenis pakan berupa hewan seperti serangga, cacing dan moluska.
Pemberian pakan dapat dilakukan dua kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore atau malam hari. Intensitas makan akan mengalami  peningkatan pada ukuran udang yang semakin besar dan dewasa. Intensitas makanan yang ada pada usus udang yang diberi atau memperoleh makan secara aktif menunjukkan isi perut terisi sebanyak tiga per empat hingga setengah penuh. Pada musim penghujan, udang memiliki risiko tingkat kematian yang tinggi karena perubahan suhu yang ekstrim, oleh karena itu jumlah pakan dapat ditingkatkan agar stamina lebih baik. Penyebab kematian juga seringkali disebabkan oleh tingginya kandungan amoniak dan H2S yang disebabkan oleh sisa-sisa pakan yang menyebabkan menurunnya kadar oksigen di kolam yang dapat menyebabkan kematian pada udang. Upaya untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan memberikan beberapa jenis probiotik yang mengandung bakteri yang mampu melakukan denitrifikasi seperti Bacillus cereus, Bacillus substillis, Bacillus licheniformis, Flavobacterium glutanicum, Pseudomonas alcaligenes, dan lain-lain. Tingginya kadar amoniak dan H2S seringkali menjadi masalah dalam dunia perikanan karena menyebabkan kematian pada hewan ternak. Oleh karena itu penting sekali diatasi dengan teknologi biolflock tersebut dengan penambahan probiotik sehingga panan dapat maksimal. Selamat berwirausaha, semoga sukses! Bravo Indonesia!



.


Rating: 4.5 out of 5

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►

BIO-MOCAF

BIO-MOCAF
Formula Pembuatan Tepung Mocaf

Acetobacter xylinum

Acetobacter xylinum
Bibit Nata De Coco
 

Copyright © 2012. AGROTEKNO LAB - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz